TPA Sukosari Dibangun Modern, Anggaran Rp26 Miliar Target Rampung 15 Desember 2025

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar Sunarno
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Pemerintah Kabupaten Karanganyar tengah mengebut pembangunan fasilitas pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sukosari.

img_title Bendungan Jlantah Resmi Beroperasi, Perkuat Pasokan Air Pertanian Karanganyar

Proyek besar ini menelan anggaran sekitar Rp26 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten dan bantuan Provinsi Jawa Tengah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar, Sunarno, mengatakan pembangunan TPA Sukosari merupakan langkah penting untuk mengatasi permasalahan sampah yang terus meningkat.

img_title Pengelolaan Sampah di Yogyakarta Jadi Rujukan DPRD DKI Jakarta

Proyek fisik ditargetkan selesai paling lambat 15 Desember 2025, sesuai jadwal akhir penyerapan anggaran,” jelasnya, Selasa (16/9/2025).

Menurut Sunarno, anggaran Rp26 miliar tersebut digunakan untuk berbagai sarana pendukung pengelolaan sampah. 

img_title SILPA Rp214 Miliar Jadi Modal Baru Karanganyar, DPRD Minta Dimaksimalkan untuk Percepat Pembangunan dan Dongkrak PAD

Fasilitas yang dibangun meliputi tiga hanggar, mesin pengolah sampah, bengkel peralatan, komposter, garasi alat, instalasi pengolahan air lindi (IPAL), hingga sistem penanganan gas metana.

Satu hanggar dan mesin utama senilai Rp10 miliar berasal dari bantuan provinsi, sementara dua hanggar tambahan serta infrastruktur lainnya dibiayai dari APBD Kabupaten. Anggaran juga mencakup pembelian lahan dan pembangunan drainase.

“Ini merupakan proyek terbesar DLH tahun ini. Harapannya, TPA Sukosari bisa menjadi pusat pengelolaan sampah yang modern di Karanganyar,” ujar Sunarno.

Jika sesuai rencana, TPA Sukosari mulai beroperasi efektif pada Februari 2026. Sebelum itu, DLH akan memberikan pelatihan selama tiga hingga enam bulan kepada tenaga kerja yang akan direkrut dari masyarakat sekitar TPA.

“Minimal 20 orang kami libatkan terlebih dahulu, dengan kebutuhan ideal mencapai 40 tenaga kerja. Mereka bertugas memilah sampah, mengoperasikan mesin pencacah, hingga proses pengemasan hasil olahan,” terangnya.

Sampah yang masuk nantinya akan dipilah dan diproses menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Produk ini sudah diminati industri semen, dan DLH telah menandatangani surat kerja sama dengan salah satu perusahaan.

DLH Karanganyar tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat melalui program Desa Mandiri Sampah. 

Sejak Agustus lalu, program ini berhasil menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA dari 140 ton menjadi 100 ton per hari.

Inisiatif ini berjalan di beberapa wilayah, termasuk Kecamatan Tawangmangu, sejumlah pondok pesantren, sekolah, dan pasar. 

Sampah organik diolah untuk peternakan, sementara sampah anorganik dimanfaatkan sebagai bahan daur ulang atau sumber penghasilan tambahan masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title