Investasi Rp2 Miliar, Dapur Gizi Bali Desa Sajikan Menu Sehat dan Serap Ratusan Tenaga Kerja

Peralatan dapur MBG berbahan stainless dengan nilai miliaran
Sumber :
  • Ist/VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Program dapur gizi yang digagas Yayasan Bali Desa Berbakti bersama Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya memastikan anak sekolah mendapat makanan sehat, tetapi juga membuka ratusan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

img_title PP Muhammadiyah Targetkan UMUKA Solo Sejajar UMS, Muh Samsuri Emban Misi Perkuat Kualitas Kampus

Ketua Yayasan Bali Desa Berbakti, Aris Munandar, menjelaskan setiap dapur mampu menyerap 50 hingga 60 tenaga kerja. Dengan delapan dapur yang sudah berjalan, jumlah pekerja yang terserap mendekati 400 orang.

“Manfaatnya ganda, anak-anak mendapat menu sehat sesuai standar gizi, sementara masyarakat juga memperoleh lapangan kerja baru,” kata Aris saat ditemui VIVA Jogja, Senin (22/9/2025). 

img_title Longsor Putus Akses Antardusun di Jatiyoso Karanganyar, 18 Rumah Warga Terisolasi

Untuk membangun dapur berstandar nasional, dibutuhkan investasi Rp1,5 hingga Rp2 miliar. Biaya terbesar dialokasikan untuk peralatan dapur berbahan stainless steel yang wajib digunakan demi menjaga higienitas.

“Kalau membangun dari nol, anggarannya bisa sampai Rp2 miliar. Kalau renovasi sedikit lebih ringan, tapi standar peralatan tidak bisa ditawar,” jelasnya.

img_title Perangkat Desa di Karanganyar Diciduk Saat Ambil Tempelan Sabu, Mengaku Sudah 5 Kali Membeli

Setiap menu yang disajikan disusun oleh ahli gizi untuk satu bulan penuh. Rancangan tersebut kemudian dikonsultasikan dengan chef profesional dan tim keuangan agar kandungan gizi seimbang serta pengeluaran tetap efisien.

“Bahan baku wajib grade A dari pemasok terbaik. Semua diatur ketat supaya anak-anak benar-benar mendapat makanan berkualitas,” ujar Aris.

Selain kandungan gizi, keamanan konsumsi juga diperhatikan. Bali Desa menerapkan deteksi alergi sejak awal agar setiap anak mendapat makanan sesuai kondisi kesehatannya.

“Anak-anak diprofiling dulu, siapa yang alergi langsung dicatat. Jadi menunya bisa disesuaikan,” imbuhnya.

Sebelum diterjunkan, tenaga kerja dapur dilatih intensif hingga tiga bulan. Menurut Aris, pelatihan ini penting agar pengelolaan makanan berjalan sesuai standar nasional.

“Kalau untuk anak-anak, tidak boleh setengah-setengah. Harus serius mulai dari bahan baku, menu, hingga eksekusi di lapangan,” tegasnya.

Dengan standar gizi ketat, investasi besar, serta komitmen terhadap kualitas dan keamanan pangan, dapur Bali Desa diharapkan menjadi model nasional dalam penyediaan makanan sehat bagi generasi muda Indonesia.