Penolakan Proyek Geotermal di Gunung Lawu Menguat, Jaga Lawu Ungkap Tiga Alasan, Apa Saja?
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Penolakan terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal) di Gunung Lawu terus menguat.
Gerakan Jaga Lawu bersama Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu (FRPGL) menegaskan sikap mereka yang konsisten menolak proyek tersebut.
Mereka menyebut ada tiga alasan utama yang menjadi dasar penolakan, yakni ancaman terhadap sumber air, risiko kerusakan lingkungan, dan potensi rusaknya situs budaya.
Ketua Jaga Lawu, Aan Shopuanudin, menilai proyek geotermal bukanlah pilihan tepat untuk kawasan Gunung Lawu.
Ia menjelaskan, eksploitasi panas bumi akan menggunakan metode fracking atau pengeboran yang melibatkan air dalam jumlah besar.
Kondisi itu dikhawatirkan mengurangi ketersediaan air bersih yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat di sekitar lereng Lawu.
“Kalau debit air menurun, masyarakatlah yang paling merasakan dampak langsung. Air itu kebutuhan dasar, tidak bisa ditawar,” tegas Aan pada VIVA Jogja, Senin (29/9/2025).
Selain persoalan air, Aan menyebut risiko kerusakan lingkungan juga tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, proses pengeboran hingga kedalaman tertentu berpotensi mengganggu ekosistem dan bahkan memicu gempa kecil akibat tekanan fracking.
Jika hal itu terjadi, dampaknya akan meluas ke hutan, lahan pertanian, hingga kawasan pemukiman.
“Gunung Lawu adalah benteng ekologi. Kalau sampai rusak, keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat juga ikut terganggu,” ujarnya.
Jaga Lawu juga menyoroti aspek budaya. Kawasan Jenawi dan Tawangmangu yang termasuk dalam area rencana eksplorasi memiliki banyak situs bersejarah, di antaranya Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Kethek.
Eksploitasi energi panas bumi dikhawatirkan dapat mengganggu atau bahkan merusak situs-situs peninggalan berharga tersebut.
“Lawu bukan hanya soal energi. Ia juga menyimpan warisan budaya yang nilainya tidak bisa diganti dengan apapun,” kata Aan menambahkan.
Menurutnya, pemerintah seharusnya mempertimbangkan alternatif energi terbarukan lain yang lebih ramah lingkungan, seperti tenaga surya dan tenaga air. Ia menilai kedua opsi tersebut lebih aman dan tidak merusak lingkungan maupun budaya.
“Kami tidak anti energi terbarukan. Tapi jangan sampai pembangunan energi dilakukan dengan mengorbankan alam dan warga,” jelasnya.