Dugaan Keracunan MPGB Karanganyar, DPRD Desak Evaluasi Program Secara Menyeluruh

Ketua PKS Karanganyar Darwanto
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Kasus dugaan keracunan yang terjadi di Karanganyar dalam pelaksanaan program Menuju Pangan Bergizi Berimbang (MPGB) memunculkan keprihatinan dari berbagai pihak. 

img_title Polisi Ungkap Kronologi Kebakaran PT Porto di Karanganyar, Peliputan Wartawan Diwarnai Pengusiran

Wakil Ketua DPRD Karanganyar dari Fraksi PKS Darwanto menyampaikan simpati kepada para korban sekaligus menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Menurutnya, meski MPGB merupakan program pemerintah pusat yang bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak-anak, peristiwa ini harus menjadi bahan pembelajaran serius bagi seluruh pihak terkait, mulai dari penyedia jasa pangan (SPG), dinas kesehatan, hingga dinas pendidikan.

img_title Asap Hitam Membumbung di Jalur Solo–Sragen, Kebakaran Hebat Landa Pabrik PT Porto Indonesia Sejahtera di Karanganyar

"Kami sangat prihatin atas peristiwa ini. Program MPGB tetap harus berjalan karena niatnya baik, tetapi pelaksanaannya perlu dibenahi agar tidak menimbulkan kekhawatiran di masyarakat,” ujar Darwanto saat ditemui VIVA Jogja, Minggu (12/10/2025). 

Politisi senior PKS itu menegaskan bahwa setiap kesalahan dalam pelaksanaan program harus menjadi bahan evaluasi bersama. Bila ditemukan unsur kelalaian, sanksi harus diberikan secara tegas. Namun, jika disebabkan faktor teknis, perlu ada langkah perbaikan agar tujuan program tidak terganggu.

img_title Jumog River Tubing Adventure, Cara Seru Menikmati Sungai di Lereng Lawu Cuma Rp25 Ribu

“Jika ada kesalahan yang disengaja, tentu harus ada sanksi. Tapi kalau karena prosedur yang belum tepat, harus segera diperbaiki. Intinya, masyarakat ingin yakin bahwa makanan untuk anak-anak aman,” tegasnya.

Menanggapi langkah pemerintah daerah yang menutup sementara salah satu SPG, dewan menilai kebijakan tersebut sudah tepat. Penutupan dilakukan agar proses investigasi dapat berjalan objektif dan menyeluruh sebelum izin operasi kembali diberikan.

“Penutupan SPG itu langkah wajar untuk memastikan penyelidikan berjalan dengan baik. Kita ingin tahu di bagian mana terjadi pelanggaran agar solusinya bisa tepat sasaran,” jelasnya.

Ia juga menyoroti adanya SPG yang belum memenuhi Standar Laik Hygiene (SLA) serta belum mengantongi sertifikat kelayakan sebelum beroperasi.

Kondisi tersebut dinilai berisiko, apalagi proses produksi dilakukan dini hari dan dalam jumlah besar dengan jeda waktu panjang sebelum makanan didistribusikan.

"Proses masak di jam dini hari dengan volume besar dan waktu distribusi yang lama sangat berisiko. Karena itu, SOP wajib dijalankan secara disiplin dan diawasi ketat,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
img_title