Warga Ngijo Protes Bau Kandang Bebek yang Diduga Picu ISPA, DLH Karanganyar Sudah Tiga Kali Lakukan Sidak
- Ist/VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Keluhan mengenai bau menyengat dari sebuah kandang bebek di Dukuh Pokoh Baru, RT 02/RW 07, Desa Ngijo, Kecamatan Tasikmadu, masih menjadi persoalan serius bagi warga.
Mereka menilai aktivitas peternakan tersebut mengganggu kenyamanan hingga memicu gejala gangguan pernapasan. Seperti yang dikabarkan dialami seorang warga yang terpaksa dirawat di rumah sakit bersama anaknya karena menderita ISPA.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa aroma limbah mulai terasa sejak Juni. “Bau paling kuat setelah Subuh, apalagi kalau udara lembap. Kalau mendung atau habis hujan, aromanya lebih tajam,” ujarnya.
Ia juga menyebut keluarganya terdampak. “Anak saya hampir tiap bulan flu, dan biasanya muncul setelah baunya menusuk. Kotoran unggas memang bisa memicu gangguan pernapasan,” ungkapnya.
Warga itu menegaskan persoalan ini sudah dibahas dalam forum RT, namun belum menghasilkan perubahan berarti. Menurutnya, kandang bebek tidak sesuai aturan ruang permukiman karena tidak memiliki fasilitas pengelolaan limbah memadai.
Ia berharap usaha ditutup atau dialihkan menjadi budidaya lele yang lebih ramah lingkungan. “Kalau tetap mau ternak unggas, harus kandang tertutup dan limbah dikelola. Tapi sulit dilakukan maksimal di permukiman,” katanya.
Sumber itu juga meminta pemerintah memastikan keputusan tegas jika mediasi dilakukan. “Kalau bisa ditutup atau diganti komoditas. Risikonya bukan hanya bau, tapi juga flu unggas.”
Samsul, pemilik Seblak Lek Sur yang berada dekat lokasi, mengaku bau dari kandang sebelumnya memang cukup mengganggu.
“Kalau pas ada bebeknya, baunya menyengat banget apalagi pas musim hujan lebih parah karena kotoran kena air,” jelasnya.
Ia menyebut empat hari terakhir bau cenderung berkurang setelah petugas kecamatan mendatangi lokasi. Samsul juga menceritakan bahwa kandang dulunya berdinding batu bata sehingga bau tidak menyebar. “Setelah roboh dan dibangun pakai plastik-plastik, barulah baunya keluar,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa warga RT lain juga terdampak. “Sampai ada yang tidak mau keluar rumah waktu hamil karena baunya kuat,” tambahnya.
Ketua RW, Eko Haryono, mengatakan lokasi itu telah beberapa kali didatangi Dinas Lingkungan Hidup, dinas peternakan, kecamatan, hingga perangkat desa. “Sarannya sudah diberikan, tapi faktanya tetap tercium,” katanya.