Politisi Muda Golkar Karanganyar Ilyas Akbar Rilis Buku Baru, Bongkar Cara Kerja Mesin Kekuasaan di Balik Demokrasi

Ilyas Akbar Luncurkan Buku Membongkar Politik
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Politisi muda Partai Golkar Karanganyar, Ilyas Akbar Almadani, kembali mencuri perhatian publik setelah resmi meluncurkan buku terbarunya yang membedah secara kritis dinamika kekuasaan di balik praktik demokrasi Indonesia.

img_title Isu Penyelamatan Aset Bank Mengemuka, IKADIN Karanganyar Soroti Hukum Kepailitan dan Tindak Pidana Perbankan

Melalui karya berjudul Mekanisasi Politik: Taktik dan Intrik di Balik Panggung Kekuasaan, Ilyas menghadirkan pandangan tajam mengenai cara mesin politik modern bekerja—mulai dari perumusan strategi, pengelolaan opini publik, hingga operasi taktis yang kerap berlangsung jauh dari jangkauan sorot kamera.

Buku yang diterbitkan Penerbit Budi Utama tersebut memuat delapan bab yang disusun dengan pendekatan ilmiah namun tetap komunikatif bagi pembaca umum.

img_title Bendungan Jlantah Resmi Beroperasi, Perkuat Pasokan Air Pertanian Karanganyar

Ilyas menilai bahwa di balik janji demokrasi, terdapat struktur kekuasaan yang berjalan dengan ritme tersendiri, mengatur aliran informasi, mengendalikan persepsi, dan membentuk arah kebijakan.

Dalam peluncuran bukunya, Ilyas menyampaikan alasan kuat di balik penulisan karya tersebut.

img_title SILPA Rp214 Miliar Jadi Modal Baru Karanganyar, DPRD Minta Dimaksimalkan untuk Percepat Pembangunan dan Dongkrak PAD

“Buku ini saya tulis untuk membuka cara publik melihat politik. Demokrasi tidak cukup dipahami dari apa yang tampil di panggung, karena keputusan penting justru lahir dari proses yang tidak selalu terlihat,” tegas Ilyas, Jumat (5/12/2025). 

Ia menambahkan bahwa pemilih sering kali dibuat hanya memahami permukaan, sementara dinamika utama justru terjadi dalam ruang-ruang strategis yang diisi negosiasi, kalkulasi, dan pertukaran kepentingan. Karena itu, menurutnya, literasi politik harus bergerak lebih jauh dari sekadar mengenal kandidat dan slogan kampanye.

Salah satu pembahasan yang mengemuka dalam buku tersebut adalah perjalanan sebuah partai politik yang pernah mencetak kemenangan besar pada Pemilu Legislatif 2004.

Namun tren itu tidak berlanjut, karena perolehan suara pada pemilu 2009 dan 2014 justru menurun hingga membuat partai hanya berada di posisi kedua.

Fenomena tersebut menurut Ilyas menjadi ilustrasi penting bahwa kekuatan politik tidak pernah stabil. Untuk pemilu berikutnya, partai kemudian menargetkan capaian yang jauh lebih besar dengan menugaskan seorang tokoh senior memimpin konsolidasi di daerah yang dianggap paling strategis. Dukungan logistik dan pendanaan disiapkan melalui mekanisme internal, termasuk kontribusi kandidat dan iuran anggota.

Ilyas menilai proses tersebut menunjukkan bagaimana kemenangan tidak pernah hadir secara spontan, tetapi merupakan kombinasi strategi, pengorganisasian, dan kemampuan membaca peta kekuasaan lokal.

Halaman Selanjutnya
img_title