Penerima KIP Asal Karanganyar Cemas Jadi Pengangguran Pasca Lulus Kuliah Menyusul Lapangan Kerja Menyempit
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Kesulitan mencari pekerjaan pasca kelulusan menyusul sempitnya lapangan pekerjaan mencuat saat dialog Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit.
Saat bertemu Dolfie para mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Isu lapangan kerja menjadi pokok pembahasan, menggeser perhatian dari persoalan akses pendidikan.
Mendengar keluhan para mahasiswa, Dolfie menyebut, kekhawatiran itu menunjukkan perubahan orientasi persoalan pendidikan tinggi.
Ia mengatakan bantuan biaya kuliah dinilai bukan lagi problem utama, melainkan transisi lulusan perguruan tinggi ke dunia kerja yang kian tidak pasti.
“Ternyata yang menjadi perhatian adik-adik mahasiswa bukan lagi soal KIP Kuliah itu sendiri, tetapi bagaimana nasib mereka setelah lulus dan masuk ke dunia kerja,” kata Dolfie, Jumat (19/12/2025) kemarin.
Menurut politisi PDI Perjuangan itu, kegelisahan tersebut tidak terlepas dari terbatasnya penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Ia menegaskan, kapasitas pemerintah dalam membuka peluang kerja sangat bergantung pada keberhasilan menarik investasi.
“Kalau tidak ada investasi, sulit menciptakan lapangan kerja. Karena itu, pekerjaan rumah besar pemerintah adalah memastikan iklim investasi tetap kondusif,” ujarnya.
Di sisi lain, Dolfie menilai pelaksanaan Program KIP Kuliah relatif berjalan tanpa kendala berarti. Bantuan pendidikan tersebut disebut telah tepat sasaran dan berkontribusi dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi kelompok kurang mampu.
Program KIP Kuliah, kata Dolfie, dirancang sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan kualitas lulusan harus dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja agar tidak berujung pada pengangguran terdidik.
Dalam konteks itu, Dolfie menyinggung komitmen pemerintah untuk menciptakan 19 juta lapangan kerja sebagaimana disampaikan dalam janji kampanye nasional. Target tersebut, menurutnya, menuntut realisasi kebijakan yang konkret dan konsisten.
“Target penciptaan 19 juta lapangan kerja tidak boleh berhenti sebagai janji politik. Ini harus diwujudkan agar kegelisahan generasi muda bisa dijawab,” ujarnya.
Namun, Dolfie juga mengakui adanya tantangan struktural ekonomi nasional. Salah satunya tercermin dari tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di atas rata-rata negara-negara ASEAN.