Berangkat dari Kegagalan, Banana Krezz Kini Jadi Alternatif Oleh-oleh Wisata Karanganyar

Aris Munandar tunjukan banana kress buatannya
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Berangkat dari kegagalan dua produk sebelumnya, Aris Munandar merintis Banana Krezz pada akhir masa pandemi Covid-19 sebagai alternatif oleh-oleh wisata di Karanganyar. 

img_title Golkar Karanganyar Bangun Mesin Politik Berbasis Data dan AI, Siapkan Strategi Menuju Pemilu 2029

Produk olahan pisang berbalut pastry dari Kampoeng Banana Krezz ini dikembangkan untuk mengisi ceruk pasar di tengah dominasi molen pisang yang selama ini melekat sebagai oleh-oleh khas daerah tersebut.

Aris mengatakan, sebelum mengembangkan Banana Krezz, ia sempat menjalankan usaha Omah Pie dan Lapis Ubi. Namun kedua produk tersebut sulit berkembang karena pasar sudah lebih dulu dikuasai pemain besar.

img_title PP Muhammadiyah Targetkan UMUKA Solo Sejajar UMS, Muh Samsuri Emban Misi Perkuat Kualitas Kampus

“Di pie kami kalah bersaing, di lapis ubi juga sudah ada pemain besar. Dari situ kami memutuskan mencari produk baru yang benar-benar berbeda,” ujar Aris saat ditemui VIVA Jogja di Kampoeng Banana Krezz, Kamis (1/1/2026).

Berangkat dari potensi lokal, Aris memilih pisang Bawen khas Tawangmangu yang dikenal manis, bertekstur padat, dan memiliki kadar air rendah. 

img_title Longsor Putus Akses Antardusun di Jatiyoso Karanganyar, 18 Rumah Warga Terisolasi

Namun ia sengaja tidak mengolahnya menjadi molen pisang yang sudah lebih dulu menjadi identitas daerah.

“Kami tidak ingin masuk ke produk yang pasarnya sudah terlalu padat. Akhirnya kami mengembangkan pisang goreng dengan balutan pastry yang diproduksi sendiri,” jelasnya.

Pada awal perintisan, produksi Banana Krezz masih terbatas, sekitar 300 boks per hari. Seiring meningkatnya kunjungan wisata ke kawasan Tawangmangu dan Karangpandan, permintaan terus bertambah. 

Saat ini, rata-rata produksi telah mencapai sekitar 1.000 boks per hari, bahkan bisa meningkat hingga dua kali lipat pada akhir pekan dan musim liburan sekolah.

Dalam pengadaan bahan baku, Kampoeng Banana Krezz tidak sepenuhnya menggunakan pisang Bawen. Untuk menjaga ketersediaan pasokan dan tidak mengganggu pelaku UMKM molen pisang, bahan baku dikombinasikan dengan pisang tanduk.

“Kalau semua mengambil pisang Bawen, suplai bisa terganggu dan harga pisang bisa naik. Kami tidak ingin pertumbuhan usaha kami justru menyulitkan pelaku usaha lain,” kata Aris.

Saat ini, Kampoeng Banana Krezz mengoperasikan lima gerai di wilayah Karanganyar. Gerai yang paling ramai berada di jalur wisata Tawangmangu–Karangpandan. Menurut Aris, pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan jarak tempuh wisatawan dari destinasi utama.

Halaman Selanjutnya
img_title