PB XIV Hangabehi Salat Jumat di Masjid Gedhe Kotagede, Warga Berjubel Menyambut
- Ist/VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Masjid Gedhe Mataram Kotagede mendadak menjadi pusat perhatian publik, Jumat (9/1/2026).
Antusiasme warga Yogyakarta memuncak saat Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Hangabehi hadir menunaikan Salat Jumat di masjid bersejarah tersebut.
Sejak sebelum azan berkumandang, ratusan warga sudah memadati halaman hingga serambi masjid. Mereka datang bukan sekadar untuk beribadah, tetapi juga ingin menyaksikan langsung kehadiran Raja Kasunanan Surakarta yang dikenal bersahaja dan dekat dengan rakyat.
Tanpa prosesi adat, tanpa iring-iringan berlebihan, PB XIV Hangabehi tiba dengan langkah tenang. Beliau langsung bergabung bersama jamaah, duduk sejajar tanpa sekat, menegaskan sikap kesederhanaan yang jarang terlihat dari figur pemimpin simbolik Jawa.
Suasana khidmat Salat Jumat berlanjut menjadi momen penuh kehangatan usai ibadah. Warga dari berbagai usia—orang tua, pemuda, hingga anak-anak—berbaris rapi. Satu per satu mereka bersalaman, sebagian mengabadikan momen bersama PB XIV Hangabehi.
Tak ada gestur canggung. Dengan senyum ramah, PB XIV Hangabehi melayani warga tanpa terburu-buru. Kehangatan itu terasa nyata, seolah meniadakan jarak antara simbol kerajaan dan rakyat.
“Sangat senang bisa bertemu langsung. Beliau ramah dan membumi,” ujar salah satu warga Kotagede yang ikut mengantre, Jumat (9/1/2026).
Kehadiran PB XIV Hangabehi di Masjid Gedhe Mataram Kotagede bukan tanpa makna. Masjid ini merupakan salah satu penanda awal berdirinya Mataram Islam, sekaligus simpul sejarah antara kekuasaan, spiritualitas, dan budaya Jawa.
Kehadiran Raja Surakarta di ruang sakral tersebut dinilai sebagai pesan kuat tentang kesinambungan nilai-nilai Jawa.
Hingga PB XIV Hangabehi meninggalkan kompleks masjid, antusiasme warga tak surut. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan kondusif dengan pengamanan terbatas dari aparat serta dukungan pengelola masjid.
Kehadiran PB XIV Hangabehi di Masjid Gedhe Mataram Kotagede menegaskan kuatnya ikatan sejarah dan spiritual antara Keraton Surakarta dan Yogyakarta.
Antusiasme warga yang hadir mencerminkan penghormatan terhadap nilai budaya dan tradisi Jawa yang masih hidup di tengah masyarakat.