Blusukan ke Karanganyar, Ahmad Luthfi Blak Blakan di Dukung 4 Presiden
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Calon Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol Ahmad Luthfi blusukan ke Karanganyar. Saat blusukan ke Karanganyar, Ahmad Luthfi bertemu dengan ribuan kader partai Gerindra.
Di hadapan kader Gerindra, Ahmad Luthfi mengaku telah mengantongi dukungan dari 4 Presiden di Pilkada Jawa Tengah ini.
"Di Pilkada ini, saya didukung oleh 4 Presiden. Empat Presiden telah mendukung saya di maju di Pilkada ini, " papar Ahmad Luthfi di hadapan kader Partai Gerindra, di balai desa Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Minggu (29/9) malam.
Ia mengatakan empat presiden yang telah mendukung dirinya maju di Pilkada Jateng 2024 ini yaitu, Presiden Partai Buruh, Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo.
"Nanti, setelah 20 Oktober 2024 pak Prabowo resmi dilantik menjadi Presiden RI, maka beliau mendukung saya. Jadi ada 5 Presiden yang mendukung saya di Pilkada ini, " ujar Luthfi disambut meriah dan yel yel dari kader Gerindra.
Suasana pertemuan antara Ahmad Luthfi dan ribuan kader partau besutan Prabowo Subianto itu begitu hidup.
Mantan orang nomer satu dijajaran Polda Jawa Tengah itu turun dari podium dan menyapa seluruh kader partai Gerindra. Baik yang berada di dalam gedung balai desa maupun yang berada di luar balai desa.
Pada para kader, Ahmad Luthfi berjanji, bersama Taj Yasin siap membangun Jawa Tengah. "Saya turun ke bawah, saya mendengar, saya melihat itu nanti sebagai bahan saya untuk visi kita Ngopeni Jawa Tengah," jelasnya
"Selama perjalanannya dirinya banyak menerima keluhan dari masyarakat. Seperti adanya fluktuasi harga (pangan), keluhan petani, nelayan, UMKM yang semuanya sudah ditampung.
"Semua aspirasi kita tampung dan kita upayakan nanti ke depan (terpilih jadi gubernur)," lanjut mantan Kapolda Jawa Tengah ini.
Ditegaskan juga oleh Ahmad Luthfi dalam berkontestasi, pada prinsipnya semua ingin menang. Namun dengan langkah dan cara yang sesuai dengan norma dan kaidah dalam berdemokrasi.
Tidak saling menghujat dan menjelekkan satu dan lainnya.
"Karena pada dasarnya demokrasi adalah perbedaan (pilihan). Dan perbedaan itu sebuah rahmat. Apalagi masyarakat sekarang sudah pinter, artinya masyarakat sudah tahu bahwa pesta (demokrasi) itu harus meriah tapi tidak melanggar hukum,"jelasnya.