Industri Cat Nasional di Tengah Persaingan Ketat, INDACO Bertahan sebagai Perusahaan Lokal
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Persaingan industri cat di Indonesia terus bergerak ketat. Pasar diisi pemain lama dengan jaringan kuat, ditambah merek asing yang agresif masuk lewat berbagai kanal distribusi.
Di tengah peta persaingan itu, PT Indaco Warna Dunia memilih bertahan dengan kepemilikan lokal sejak awal berdiri.
Perusahaan yang didirikan pada 2005 tersebut menempatkan identitas sebagai perusahaan Indonesia bukan sebagai label pemasaran, melainkan sebagai arah kebijakan.
Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus, menyebut keputusan itu diambil sejak perusahaan mulai beroperasi dan masih dipertahankan hingga kini.
“INDACO itu singkatan dari Indonesian Company. Dari awal kami ingin jelas soal posisi perusahaan ini,” kata Iwan saat ditemui wartawan, Jumat (6/2/2026).
Menurut Iwan, pilihan tersebut membuat perusahaan harus siap menghadapi persaingan dengan karakter berbeda. Masuknya produk impor, dominasi merek multinasional, serta perubahan pola distribusi menjadi tantangan yang terus dihadapi industri cat nasional, termasuk INDACO.
Ia tidak menutup mata terhadap posisi perusahaan saat ini. Hingga kini, INDACO belum berada di jajaran teratas industri cat nasional. Perusahaan, kata dia, masih berada dalam fase penguatan.
“Kalau bicara posisi, kami belum di puncak. Masih proses,” ujarnya.
Selain tekanan pasar, isu standar produksi dan lingkungan juga menjadi bagian dari dinamika industri. Iwan menjelaskan bahwa perusahaan menjalani pengujian produk melalui lembaga independen sebagai bagian dari penyesuaian terhadap standar yang berlaku.
Salah satu pengujian tersebut dilakukan oleh Green Label Singapore. Berdasarkan hasil pengujian itu, kandungan Volatile Organic Compounds (VOC) pada produk cat INDACO tercatat berada di bawah ambang batas yang ditetapkan lembaga tersebut.
“Hasil pengujian itu kami jadikan referensi internal untuk menjaga proses produksi,” kata Iwan.
Di sisi distribusi, perusahaan juga melakukan penyesuaian seiring perubahan perilaku pasar. Sistem penjualan dan pemasaran mulai diarahkan untuk memanfaatkan teknologi digital, mengikuti pergeseran pola konsumsi yang semakin cepat.
Iwan menyebut, langkah tersebut bukan semata soal ekspansi, tetapi upaya menyesuaikan diri dengan cara pasar bergerak saat ini.