Mengikuti Mobil Pelat Merah, Rombongan Wartawan Sempat Kesasar di Jalur Ekstrem Jatiyoso
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Keseruan Hari Pers Nasional (HPN) di Karanganyar bermula dari suasana ringan dan penuh tawa.
Sekitar pukul 10.00 WIB, dua unit Hiace membawa rombongan wartawan meninggalkan Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar menuju Pendopo Desa Wonokeling, Kecamatan Jatiyoso. Mesin mobil meraung halus, sementara obrolan di dalam kabin mengalir bebas.
Belum jauh dari pendopo, salah satu wartawan, Yasin, memecah suasana.
“Wah, rasanya kayak pejabat. Jalan dikawal Voorijder, depan pendopo sampai ditutup Satpol PP.” celetuk Yasin, Senin (9/2/2026).
Tawa langsung pecah. Beberapa mengeluarkan ponsel, merekam momen, sebagian lain bersandar santai di kursi. Perjalanan awal terasa seperti wisata singkat, meski jalur naik-turun khas perbukitan mulai terlihat.
Setibanya di Desa Wonokeling, rangkaian HPN tak sekadar seremonial. Rombongan mengikuti Bupati Karanganyar Rober Christanto meninjau lokasi terdampak bencana puting beliung dan gempa bumi.
Di sepanjang jalan desa, anak-anak sekolah berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan saat iring-iringan melintas. Senyum polos mereka menyisakan suasana haru, kontras dengan kisah bencana yang baru saja dilalui warga.
Di lokasi, Rober tampil tanpa jarak. Ia menyerahkan langsung paket bantuan kepada para wartawan, sebuah simbol kepercayaan agar insan pers menyalurkan bantuan tersebut langsung kepada warga terdampak.
Sesaat, peran berubah—kamera diturunkan, tangan-tangan wartawan justru sibuk mengangkat paket bantuan.
Usai kegiatan, rombongan bersiap kembali pulang. Tak ada firasat apa pun. Mesin dinyalakan, pintu ditutup, dan Hiace kembali melaju.
Beberapa menit pertama berjalan normal. Hingga sebuah mobil berpelat merah di depan berbelok ke kanan. Dikira kendaraan camat, rombongan mengikuti tanpa ragu. Tak lama kemudian, suasana berubah.
Jalan mendadak menyempit drastis. Aspal berganti jalur kasar, tanjakan curam mulai menghadang, disusul tikungan tajam tanpa pandangan. Di satu sisi, jurang terbuka tanpa pembatas, di sisi lain tebing tanah menjulang rapat. Lebar jalan hanya cukup untuk satu kendaraan.
Obrolan di dalam mobil pelan-pelan menghilang.Sopir duduk semakin tegak, bahunya kaku. Kedua tangannya menggenggam setir lebih erat dari sebelumnya. Rahangnya mengeras, sesekali matanya melirik spion, memastikan jarak aman dengan kendaraan di belakang. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya.