PWI Surakarta Terpaksa Angkat Kaki, Tirakatan HPN 2026 Tak Digelar di Monumen Pers
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Agenda tirakatan dan refleksi Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta dipastikan tidak berlangsung di Monumen Pers Nasional (MPN). Untuk pertama kalinya, kegiatan sakral menyambut HPN tersebut harus digelar di luar tempat bersejarah lahirnya PWI.
Pemindahan lokasi dilakukan setelah penggunaan Hall Utama Monumen Pers Nasional yang sebelumnya telah dikoordinasikan dan dijanjikan, dibatalkan secara sepihak oleh pengelola. Informasi pembatalan itu diterima panitia sekitar empat hari menjelang pelaksanaan.
Sekretaris PWI Surakarta, Asep Abdullah, mengatakan panitia telah berkoordinasi sejak jauh hari dengan Kepala Monumen Pers Nasional dan mendapatkan kepastian bahwa tirakatan HPN bisa digelar seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Padahal jauh-jauh hari kami dari panitia sudah koordinasi dengan Pak Kepala MPN. Kami dijanjikan seperti biasa tirakatan bisa digelar di Hall Utama Monumen Pers. Tapi tiba-tiba ketika kami mau mempersiapkan acara kok tidak boleh pakai ruang utama tersebut,” ujar Asep, Selasa (10/2/2026).
Alasan pembatalan yang disampaikan kepada panitia adalah karena ruangan akan digunakan untuk kegiatan lain. Kondisi tersebut membuat panitia kerepotan, mengingat undangan telah disebar dan tirakatan HPN selama ini selalu digelar di Monumen Pers sebagai lokasi cikal bakal berdirinya PWI.
Ketua Panitia HPN PWI Surakarta 2026, Bramantyo, menyebut keputusan berpindah lokasi terpaksa diambil demi menjaga kelancaran seluruh rangkaian HPN.
“Meski berat hati, panitia harus angkat kaki dan mencari tempat lain. Monumen Pers bukan hanya tempat lahirnya pers, tetapi juga momentum menguatkan kembali kolaborasi wartawan di Soloraya,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan atas situasi tersebut.
“Kami seperti terusir dari rumah sendiri. Tidak apa-apa. Ini menjadi ujian PWI Surakarta untuk naik level. PWI di seluruh Indonesia akan tahu bahwa rumah tempat PWI dan pers lahir kini tak lagi nyaman,” ujarnya.
Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul, mengaku sangat menyayangkan pembatalan sepihak tersebut. Menurutnya, persoalan penggunaan ruangan seharusnya tidak perlu terjadi apabila ada saling pengertian, terlebih tirakatan HPN hanya berlangsung semalam dan merupakan agenda rutin tahunan.