Perajin Tas Denim Daur Ulang Asal Kartasura Bangkit Usai Pandemi, Tembus Inacraft 2026

Perajin Tas Denim Daur Ulang
Sumber :
  • VIVA Jogja

SUKOHARJO, VIVA Jogja - Pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Banyak usaha rumahan berhenti beroperasi karena penurunan permintaan dan keterbatasan modal. 

img_title KPK Geledah Kantor Bupati Sukoharjo, Tiga Koper Dibawa Penyidik usai Pemeriksaan

Namun bagi Erna Prilyani, warga Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, masa krisis justru menjadi titik awal lahirnya usaha kreatif berbasis daur ulang.

Di rumahnya, Erna mengolah celana jeans bekas menjadi tas dengan desain kasual dan karakter unik. Usaha tersebut ia rintis saat kondisi ekonomi keluarga terdampak pandemi.

img_title Profil Etik Suryani, Bupati Sukoharjo yang Terjaring OTT KPK: Berawal dari Pegawai Bank hingga Punya Harta Rp9,1 Miliar

“Waktu pandemi itu rasanya serba tidak pasti. Penghasilan turun, aktivitas terbatas. Saya hanya berpikir bagaimana caranya tetap produktif dari rumah,” ujar Erna saat ditemui, belum lama ini.

Berbekal keterampilan menjahit yang telah ia tekuni sejak remaja, ia mulai memanfaatkan denim bekas yang mudah ditemukan di sekitarnya. Bahan yang sebelumnya dianggap tak bernilai, di tangannya berubah menjadi tas tangan, tote bag, hingga ransel kecil.

img_title Sehari usai OTT KPK, DPC PDIP Sukoharjo Masih Tahan Sikap soal Bupati Etik Suryani

“Awalnya saya ragu. Takut tidak ada yang mau beli. Tapi saya berpikir, kalau tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu hasilnya,” katanya.

Produksi dilakukan dengan peralatan sederhana. Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan dua hingga lima tas, tergantung tingkat kesulitan desain. Proses pengerjaan kerap berlangsung hingga larut malam.

“Kadang menjahit sampai malam. Capek pasti, tapi justru dari situ saya merasa punya harapan. Setidaknya saya tidak diam saja menunggu keadaan membaik,” ungkapnya.

Usaha tersebut kemudian ia beri nama DenCraft. Pemasaran dilakukan secara bertahap, mulai dari penawaran kepada tetangga hingga memanfaatkan media sosial. 

Respons positif mulai berdatangan, terutama karena konsep daur ulang yang dinilai ramah lingkungan.

Erna mengakui perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus. Ia sempat merasa minder saat membandingkan produknya dengan merek lain yang sudah mapan.

“Saya pernah merasa produk saya kurang rapi. Tapi saya belajar memperbaiki pola, teknik jahit, dan pemilihan bahan. Saya sadar kualitas itu proses,” ujarnya.

Kesempatan lebih luas datang ketika DenCraft mengikuti pameran kerajinan berskala nasional, Inacraft 2026 di Jakarta. Ajang tersebut mempertemukan perajin dari berbagai daerah di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
img_title