Fasilitas Atlet Disabilitas Digaspol, Erick Thohir Tak Mau Venue Latihan Bernasib Mangkrak

Menpora Erik Tohir di NPC Training Center di Karanganyar
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Performa atlet disabilitas Indonesia terus menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Di balik torehan prestasi itu, pemerintah mulai menggeber satu sektor krusial yang kerap luput dari sorotan, fasilitas latihan.

img_title Jogja Marathon 2026: 10.200 Pelari Antar DIY ke Panggung Sport Tourism Dunia

Melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, dukungan untuk atlet di bawah naungan National Paralympic Committee Indonesia diperkuat. Fasilitas latihan yang digunakan atlet disabilitas bahkan diklaim sudah berada di level terbaik di Asia Tenggara.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menegaskan, kualitas fasilitas menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi performa atlet.

img_title TC NPC Solo Bakal Dikembangkan Lagi, Kebutuhan Anggaran Diperkirakan Capai Rp400 Miliar

“Prestasi itu lahir dari proses. Kalau fasilitasnya bagus dan terawat, atlet bisa fokus meningkatkan performa,” ujar Erick usai mengecek seluruh fasilitas di NPC Traning Center, Karamganyar, Sabtu (14/2/2026). 

Erick memastikan pembangunan fasilitas latihan atlet disabilitas akan berlanjut ke tahap berikutnya. Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum sudah dilakukan sesuai arahan Presiden.

img_title Renovasi Stadion Tridadi Sleman butuh Anggaran Rp50 Miliar

Tahap lanjutan ini difokuskan untuk melengkapi sarana pendukung latihan, mulai dari peningkatan kualitas venue hingga fasilitas penunjang pemulihan atlet. Namun Erick menegaskan, pembangunan fisik bukan satu-satunya jawaban.

“Kita sudah sering melihat fasilitas olahraga dibangun megah, tapi beberapa tahun kemudian rusak dan tidak terpakai. Itu yang tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.

Masalah perawatan atau maintenance menjadi catatan penting pemerintah. Erick menilai, banyak fasilitas olahraga akhirnya mangkrak bukan karena kurang bagus, tetapi karena tidak dikelola secara berkelanjutan.

Untuk mencegah hal itu, Kemenpora membuka skema pengelolaan yang lebih fleksibel. Mulai dari kerja sama dengan pihak swasta, penyediaan anggaran perawatan melalui sistem hibah, hingga pemanfaatan terbatas fasilitas oleh publik.

“Kalau fasilitas bisa dimanfaatkan, hasilnya kita kembalikan untuk perawatan. Yang penting tempat latihan tetap hidup,” kata Erick.

Menurutnya, fungsi utama fasilitas tetap untuk atlet. Skema pemanfaatan hanya bersifat pendukung agar venue tidak terbengkalai dan kualitasnya terjaga.

Dengan pembenahan fasilitas yang terus berjalan, Erick berharap atlet disabilitas bisa sepenuhnya fokus pada latihan dan peningkatan performa. Urusan infrastruktur dan pengelolaan, kata dia, harus menjadi tanggung jawab negara.

Halaman Selanjutnya
img_title