Dari Dosen ke Wartawan, Jejak Pengabdian Joko Dwi Hastanto di Karanganyar
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Joga- Duka mendalam menyelimuti dunia jurnalistik Kabupaten Karanganyar. Wartawan senior H. Joko Dwi Hastanto, yang dikenal luas atas dedikasi dan integritasnya selama bertugas di Karanganyar, meninggal dunia pada Rabu (18/2/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Almarhum wafat saat menjalani perawatan di RSUD Dr Moewardi, Surakarta, akibat kondisi kesehatan yang menurun.
Kepergian Joko bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan duka mendalam bagi insan pers dan masyarakat Karanganyar. Sosoknya dikenal bersahaja, rendah hati, namun tegas dalam memegang prinsip jurnalistik.
Sebelum sepenuhnya terjun ke dunia pers, Joko Dwi Hastanto sempat berkarier sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Di tengah karier yang mapan, ia mengambil keputusan besar dengan melepas status aparatur sipil negara (PNS) demi mengikuti panggilan hati sebagai wartawan.
Sejak itu, almarhum mengabdikan hidupnya di dunia jurnalistik, khususnya dalam meliput berbagai peristiwa di Karanganyar.
Selama bertugas, Joko dikenal sebagai wartawan lapangan sejati. Ia tidak segan turun langsung ke lokasi, membangun relasi dengan berbagai kalangan, serta konsisten menyajikan berita faktual dan berimbang.
Dedikasinya bahkan membawanya meliput berbagai peristiwa hingga ke luar negeri. Jejaring pergaulannya pun luas, termasuk kedekatannya dengan maestro pedalangan nasional, Ki Manteb Sudarsono.
Kabar wafatnya Joko Dwi Hastanto mendapat perhatian dari jajaran pemerintah daerah. Bupati Karanganyar Rober Christanto turut hadir bertakziah ke rumah duka dan ikut menunaikan salat jenazah bersama keluarga serta pelayat.
Sementara itu, Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana yang tengah berada di Yogyakarta untuk menghadiri agenda partai politiknya, menyempatkan diri kembali ke Karanganyar demi memberikan penghormatan terakhir.
“Saya tadi langsung ke sini. Mobil saya pacu agar bisa datang dan bertakziah,” ujar Adhe Eliana dengan mata berkaca-kaca, Rabu (18/2/2026).
Dari kalangan jurnalis, Ketua Forum Jurnalis Karanganyar, Arga Diraksa, menyebut almarhum sebagai figur panutan.
Menurutnya, Joko bukan hanya rekan liputan, tetapi juga guru yang banyak menularkan ilmu jurnalistik kepada wartawan muda.
“Mas Joko itu punya daya ingat luar biasa. Saat wartawan lain mengandalkan catatan atau alat perekam, beliau cukup mengingat detail peristiwa, lalu merangkainya menjadi berita yang utuh dan tajam,” kata Arga.