Aksi Seni di Alun-alun Karanganyar Serukan Tolak Geotermal Gunung Lawu
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Penolakan terhadap rencana proyek panas bumi di lereng Gunung Lawu disuarakan dengan cara yang tak biasa.
Gabungan seniman dan aktivis memilih jalur kebudayaan dengan menggelar aksi seni bertajuk Tanggap Ing Sasmita, Refleksi Lawoe Lestari di Alun-alun depan Kantor Bupati Karanganyar, Minggu (1/3/2026) malam.
Aksi berlangsung di bawah pohon rindang saat kondisi alun-alun tengah dipadati warga. Tanpa panggung megah dan tanpa orasi lantang, pertunjukan teatrikal, pembacaan puisi, hingga tembang Jawa justru menyatu dengan aktivitas masyarakat yang tengah berolahraga, bersantai, dan berkumpul bersama keluarga.
Pendekatan ini membuat aksi tersebut tak terasa seperti demonstrasi pada umumnya. Warga yang semula hanya melintas perlahan berhenti, lalu menyimak jalannya pertunjukan.
Pantauan VIVA Jogja, di lokasi tampak sebuah becak diparkir di area pertunjukan sebagai bagian dari properti aksi.
Bendera Merah Putih dikibarkan, menegaskan bahwa aspirasi yang disuarakan tetap dalam bingkai kebangsaan.
Gabungan aktivis dan seniman membentangkan spanduk putih berukuran cukup panjang. Secara bergantian mereka membubuhkan tanda tangan di atasnya sebagai simbol penolakan terhadap rencana proyek geotermal di kawasan lereng Lawu. Dua poster penolakan juga dipasang di sekitar lokasi aksi.
Spanduk penuh tanda tangan itu menjadi penanda sikap kolektif yang disampaikan dengan cara damai dan terbuka di ruang publik.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian terjadi ketika tokoh masyarakat Karanganyar sekaligus
Ketua Karanganyar Emergency, Joko Sunarno, yang akrab disapa Mbah Po, tampil membawakan kidung Jawa.
Dalam lantunan tembangnya, Gunung Lawu digambarkan sebagai gentong air—penyangga kehidupan yang memberi sumber air dan keberlangsungan bagi masyarakat di sekitarnya.
Syair yang sarat makna ekologis itu membuat suasana alun-alun yang semula riuh perlahan berubah hening.
Warga duduk lesehan, menyimak setiap bait yang mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Kidung tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga pesan moral tentang hubungan manusia dan gunung yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Eksponen Jagalau, Bli Baharudin, mengatakan pendekatan seni dipilih agar pesan yang disampaikan tidak memicu ketegangan.