Lereng Lawu Disulap Lebih Tertata, Wisata Alam Karanganyar Siap Naik Kelas
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Wajah pariwisata di lereng Gunung Lawu bersiap berubah. Kawasan yang selama ini dikenal alami kini mulai ditata ulang dengan pendekatan lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Langkah besar ini ditandai dengan kesepakatan kerja sama antara pengelola kehutanan dan badan usaha milik daerah Kabupaten Karanganyar.
Penandatanganan dilakukan di Rumah Dinas Bupati, Selasa (17/3/2026), sebagai titik awal transformasi pengelolaan wisata berbasis lingkungan.
Fokus utama kolaborasi ini bukan sekadar mendatangkan wisatawan. Lebih dari itu, pengembangan diarahkan agar tetap selaras dengan fungsi hutan sebagai penyangga ekosistem.
“Wisata boleh berkembang, tapi kelestarian harus tetap jadi prioritas,” menjadi garis besar komitmen yang ditegaskan dalam kerja sama tersebut.
Sejumlah destinasi di lereng Lawu masuk dalam skema penataan, dengan cakupan wilayah mencapai ribuan hektare.
Kawasan ini akan dikembangkan secara bertahap, mulai dari pembenahan fasilitas, peningkatan standar layanan, hingga penguatan sistem pengelolaan wisata.
Pendekatan yang digunakan mengarah pada tata kelola profesional. Tidak hanya infrastruktur fisik, strategi promosi dan manajemen pengunjung juga disiapkan lebih matang untuk menjawab tren wisata masa kini.
Di sisi lain, pemerintah daerah melihat momentum ini sebagai peluang untuk membenahi wajah pariwisata Karanganyar secara menyeluruh.
Selama ini, pengelolaan dinilai belum sepenuhnya terintegrasi, sehingga potensi besar yang dimiliki belum tergarap optimal.
Penataan ke depan akan menghubungkan berbagai titik wisata unggulan seperti Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Jatiyoso dalam satu jalur pengalaman wisata yang berkesinambungan.
Konsep ini diharapkan mampu mengubah pola kunjungan wisatawan. Tidak lagi sekadar datang singkat di akhir pekan, tetapi tinggal lebih lama dan menjelajahi lebih banyak destinasi.
Dampaknya, perputaran ekonomi lokal diproyeksikan ikut terdongkrak—mulai dari pelaku UMKM, penginapan, hingga sektor jasa wisata lainnya.
Menariknya, pengembangan tidak akan menghilangkan karakter alami kawasan. Hutan, kebun teh, hingga perkebunan kopi tetap menjadi daya tarik utama, namun dikemas lebih rapi dan nyaman bagi pengunjung.
Dengan konsep ini, lereng Lawu diproyeksikan bukan hanya menjadi destinasi favorit, tetapi juga contoh pengelolaan wisata alam yang seimbang antara eksploitasi dan konservasi.