Dispar Karanganyar Benahi Total Wisata Religi, SOP Candi Ceto Disorot Usai Masukan Tokoh Bali

Kepala Dispar Karanganyar Yopi Eko Jati Wibowo
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Dinas Pariwisata (Dispar) Karanganyar bergerak cepat melakukan pembenahan menyeluruh pada layanan wisata religi. 

img_title Golkar Karanganyar Bangun Mesin Politik Berbasis Data dan AI, Siapkan Strategi Menuju Pemilu 2029

Langkah ini diambil setelah muncul evaluasi tajam dari tokoh agama Hindu asal Bali terkait kualitas pelayanan di sejumlah destinasi spiritual seperti Candi Ceto, Candi Sukuh, dan Pura Pemacekan Agung. 

Kepala Dispar Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, menegaskan bahwa perbaikan tidak bisa ditunda. 

img_title PP Muhammadiyah Targetkan UMUKA Solo Sejajar UMS, Muh Samsuri Emban Misi Perkuat Kualitas Kampus

Menurutnya, standar pelayanan yang belum optimal berpotensi mengganggu kekhusyukan umat sekaligus mencoreng citra pariwisata daerah.

“Wisata religi itu sensitif. Yang dijual bukan sekadar destinasi, tapi rasa nyaman dan kekhidmatan. Kalau pelayanan tidak tepat, dampaknya langsung terasa,” tegas Yopi, Kamis (9/4/2026). 

img_title Longsor Putus Akses Antardusun di Jatiyoso Karanganyar, 18 Rumah Warga Terisolasi

Hasil evaluasi menunjukkan masih lemahnya pemahaman petugas di lapangan terhadap standar operasional prosedur (SOP). 

Mulai dari etika berpakaian saat mendampingi umat beribadah hingga cara berinteraksi dengan pengunjung dinilai belum seragam dan belum profesional.

Tak hanya itu, praktik menawarkan suvenir di tengah aktivitas ibadah menjadi sorotan serius. Aktivitas tersebut dinilai tidak pada tempatnya dan berpotensi mengganggu konsentrasi umat yang sedang menjalankan ritual.

“Ini bukan soal melarang orang mencari rezeki, tapi soal empati dan waktu. Jangan sampai momen sakral justru terganggu karena cara pelayanan yang keliru,” ujarnya.

Dispar menegaskan bahwa pembenahan akan dilakukan secara sistematis dengan mengedepankan pendekatan edukatif. 

Para pelaku wisata tidak akan langsung diberi sanksi, melainkan dibina agar memahami standar pelayanan yang benar.

“Kami memilih membangun, bukan menghukum. Edukasi jadi kunci agar perubahan ini bisa bertahan lama,” kata Yopi.

Sebagai langkah lanjutan, Dispar juga menyiapkan program peningkatan kapasitas dengan mengirim pelaku wisata belajar langsung ke Bali. 

Langkah ini dinilai strategis untuk mengadopsi sistem pengelolaan wisata religi yang sudah lebih mapan.

“Sudah ada undangan dari sana. Ini peluang besar untuk belajar langsung dari yang sudah berhasil mengelola wisata spiritual dengan baik,” tambahnya.

Pembenahan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi besar Karanganyar dalam menarik lebih banyak wisatawan religi, khususnya dari Bali.

Dengan pelayanan yang semakin profesional, Karanganyar optimistis mampu bersaing dengan destinasi spiritual lain di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
img_title