Berani Target 15 Emas, KONI Karanganyar Hanya Punya Rp4 Miliar untuk Prapov 2026
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - KONI Karanganyar memasang target berani 15 medali emas di Prapov 2026—meski anggaran baru Rp4 miliar dan dinilai belum mencukupi. Di tengah keterbatasan itu, 250 atlet sudah digenjot latihan intensif selama enam bulan.
Ambisi besar itu diungkapkan Ketua KONI Karanganyar yang juga Ketua DPRD Karanganyar, Bagus Selo. Ia menegaskan, target 15 emas bukan sekadar wacana, melainkan hasil perhitungan matang berdasarkan potensi cabang olahraga (cabor) unggulan.
“Target kami 15 emas. Sudah kami petakan dari cabang-cabang yang berpeluang,” ujar Bagus usai pengukuhan tim Atlet yang bakal diberangkatkan menuju Prapov di Gedung DPRD, Sabtu (11/4/2026).
Sebanyak 250 atlet telah dipastikan lolos pra-kualifikasi dan akan menjadi tulang punggung Karanganyar dalam ajang Prapov ke-17 tahun 2026. Dari total 39 cabang olahraga yang diikuti, terdapat 59 nomor pertandingan yang akan diperebutkan.
Sejumlah cabor diproyeksikan menjadi lumbung medali, di antaranya dance sport, jujitsu, balap motor, paralayang, binaraga, panjat tebing, voli pantai, balap sepeda, menembak, hingga aeromodelling. Selain itu, cabor seperti angkat berat, berkuda, dan catur disiapkan sebagai pelapis jika target utama meleset.
Menariknya, masih ada peluang tambahan medali dari cabang olahraga yang hingga kini belum dipastikan dipertandingkan. Jika resmi masuk agenda, cabor tersebut diyakini bisa menyumbang setidaknya dua medali emas.
Untuk mengejar target ambisius tersebut, KONI Karanganyar tidak ingin setengah-setengah. Program pemusatan latihan (training camp/TC) telah dimulai dan akan berlangsung selama enam bulan penuh hingga menjelang Prapov yang dijadwalkan pada Oktober 2026.
Seluruh atlet kini difokuskan pada peningkatan kondisi fisik dan teknik. Bahkan, latihan tidak hanya dilakukan di Karanganyar. Jika fasilitas daerah dinilai belum memenuhi standar, atlet akan dikirim berlatih ke kabupaten lain yang memiliki sarana lebih memadai.
“Kami fleksibel. Yang penting atlet bisa berlatih optimal,” tegas Bagus.
Namun di balik ambisi besar itu, persoalan klasik kembali muncul: keterbatasan anggaran. Hingga saat ini, dana yang tersedia baru sekitar Rp4 miliar. Padahal, kebutuhan operasional TC diperkirakan hampir menyentuh Rp1 miliar setiap bulan.
Kondisi ini membuat KONI harus memutar otak agar program tetap berjalan maksimal. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah mengajukan penambahan anggaran pada perubahan APBD mendatang.