Harga Minyak Goreng Mulai Naik di Karanganyar, Pasar Jaten Jadi Indikator Awal Kenaikan

Situasi Pasar Jaten, sepi pasca harga mulai menggila naik
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di Karanganyar mulai merangkak naik. Salah satu yang menjadi indikator pergerakan harga terlihat di Pasar Jaten, dengan kenaikan tipis yang mulai dirasakan pedagang dan pembeli.

img_title Asap Hitam Membumbung di Jalur Solo–Sragen, Kebakaran Hebat Landa Pabrik PT Porto Indonesia Sejahtera di Karanganyar

Kenaikan ini memang belum signifikan, namun menjadi sinyal awal perubahan harga kebutuhan pokok di tingkat pasar. Dalam beberapa hari terakhir, pedagang menyebut harga mengalami penyesuaian bertahap, terutama pada minyak goreng kemasan dan curah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja Karanganyar, Nugroho, membenarkan adanya tren kenaikan tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, harga masih dalam kategori wajar dan belum mengganggu stabilitas pasar secara umum.

img_title Jumog River Tubing Adventure, Cara Seru Menikmati Sungai di Lereng Lawu Cuma Rp25 Ribu

“Pantauan kami, harga memang naik, tetapi tidak signifikan. Stok masih aman dan distribusi juga lancar,” ujarnya, Kamis (23/4/2026). 

Saat ini, minyak goreng kemasan bermerek ukuran dua liter dijual di kisaran Rp44.000. Produk seperti Bimoli, Tropical, dan Sanco masih tersedia di pasaran. 

img_title Kelola 25 Destinasi di Tiga Provinsi, The Lawu Group Menjelma Jadi Raksasa Wisata Regional

Sementara itu, minyak goreng curah berada di rentang Rp17.500 hingga Rp19.000 per liter, dengan variasi harga tergantung lokasi penjualan.

Meski demikian, kenaikan harga mulai menekan pedagang. Margin keuntungan menipis, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat pergerakan harga sekecil apa pun menjadi sensitif di tingkat pasar.

Di sisi lain, pemerintah daerah belum mengambil langkah intervensi seperti operasi pasar atau pasar murah. Nugroho menjelaskan, program tersebut umumnya merupakan kebijakan pemerintah provinsi dan pelaksanaannya harus melalui koordinasi dengan Perum Bulog.

“Hingga saat ini belum ada instruksi maupun program pasar murah. Kami juga sudah berkomunikasi dengan Bulog, namun belum ada rencana dalam waktu dekat,” jelasnya.

Pemantauan harga akan terus dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan yang lebih tinggi, terutama menjelang momen peningkatan konsumsi seperti hari besar keagamaan. Pemerintah daerah memastikan intervensi akan dilakukan jika kenaikan harga mulai memberatkan masyarakat.

Tren kenaikan harga minyak goreng ini menjadi peringatan dini bahwa stabilitas harga pangan masih rentan. Meski saat ini kondisi dinilai terkendali, pergerakan harga di pasar tradisional tetap menjadi indikator penting bagi kebijakan pemerintah ke depan.