Di Balik Juara Nasional Pangan, Karanganyar Dikejar PR Budaya Menanam
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Prestasi juara satu nasional klaster pangan belum membuat Karanganyar berpuas diri. Bupati Karanganyar Rober Christanto justru menyoroti persoalan yang belum selesai, rendahnya budaya menanam di masyarakat dan kebutuhan regenerasi petani di tengah peran daerah sebagai penyangga pangan.
Capaian Karanganyar di tingkat nasional melalui program klaster pangan berbasis pengembangan bibit unggulan menjadi pengakuan atas potensi besar sektor pertanian di daerah tersebut.
Program ini dijalankan bersama AB2TI dengan dukungan pendampingan dari kalangan akademisi, termasuk Universitas Sebelas Maret (UNS) dan IPB.
Meski demikian, Bupati Karanganyar Rober Christanto menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan tujuan akhir.
“Ini juara satu nasional untuk ketahanan pangan. Tapi yang lebih penting bagaimana masyarakat mau menanam,” ujarnya.
Menurut dia, Karanganyar memiliki keunggulan pada keragaman komoditas. Hampir seluruh jenis tanaman produktif dapat dikembangkan di wilayah ini, menjadikannya salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Tengah.
Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan partisipasi masyarakat secara luas. Aktivitas menanam belum menjadi kebiasaan, terutama di tingkat rumah tangga.
Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong perubahan pendekatan, dari program berbasis bantuan menjadi gerakan berbasis kesadaran masyarakat.
“Ayo menanam. Tidak harus besar, yang penting mulai,” kata Rober.
Langkah ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dari level paling dasar sekaligus membangun kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Selain itu, isu regenerasi petani juga menjadi perhatian. Minimnya minat generasi muda dinilai berpotensi memengaruhi keberlanjutan sektor pertanian dalam jangka panjang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Karanganyar menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, guna mendorong inovasi serta menarik minat generasi muda agar terlibat di sektor pertanian.
Di sisi lain, Karanganyar juga mencatat capaian di bidang pelayanan publik dengan meraih peringkat dua nasional dalam Sistem Pelayanan Minimal (SPM), yang mencakup berbagai layanan dasar kepada masyarakat, termasuk sektor pangan.
Namun, Rober kembali menegaskan bahwa indikator keberhasilan tidak berhenti pada penghargaan.
“Yang kita kejar dampaknya. Masyarakat harus benar-benar merasakan,” ujarnya.