Kisah di Balik Swadaya Warga Kaliboto, Patungan Rp19 Juta, Jalan Rusak 10 Tahun Rampung 3 Hari
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Jalan di Desa Kaliboto, Kecamatan Mojogedang, kini kembali bisa dilalui dengan lebih nyaman. Namun di balik permukaan yang mulai mulus itu, tersimpan kisah panjang tentang penantian, kekecewaan, dan gotong royong warga.
Selama lebih dari 10 tahun, jalan penghubung Denok (Bendungan) menuju Pojok itu dibiarkan dalam kondisi rusak. Lubang, genangan air saat hujan, hingga permukaan yang tak rata menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi warga.
Bagi sebagian orang, jalan rusak mungkin sekadar ketidaknyamanan. Namun bagi warga Kaliboto, kondisi itu berdampak langsung pada kehidupan. Jalan tersebut merupakan akses utama untuk bekerja, berdagang, hingga jalur alternatif menuju Karanganyar.
“Kalau lewat sini harus hati-hati, apalagi kalau hujan. Licin dan berlubang,” tutur Slamet, warga setempat saat ditanya VIVA Jogja, Selasa (28/4/2026).
Bertahun-tahun warga menunggu perbaikan. Permohonan demi permohonan telah diajukan, namun tak kunjung berbuah hasil nyata. Hingga akhirnya, rasa menunggu itu berubah menjadi tekad.
Sebuah tim kecil dibentuk. Tanpa banyak perencanaan rumit, penggalangan dana dilakukan secara spontan. Dari rumah ke rumah, dari obrolan sederhana hingga ajakan gotong royong, bantuan mulai terkumpul.
Dalam waktu sekitar satu minggu, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp19 juta.
Nominalnya beragam. Ada yang menyumbang Rp50 ribu, Rp150 ribu, hingga Rp1,5 juta. Tak sedikit pula warga yang membantu dengan cara lain—mengirim pasir, menyumbang semen, atau tenaga saat pengerjaan.
“Semua sukarela. Yang penting jalan ini bisa diperbaiki,” kata Slamet.
Tak ada seremoni besar saat pengerjaan dimulai. Warga langsung bergerak. Dengan alat seadanya dan semangat kebersamaan, mereka memperbaiki jalan yang selama ini mereka keluhkan.
Dalam waktu tiga hari, jalan sepanjang kurang lebih 3 kilometer itu berhasil diperbaiki. Akses yang sebelumnya rusak parah kini kembali bisa dilalui dengan lebih aman.
Bagi warga, ini bukan sekadar soal jalan yang mulus. Ini tentang kebersamaan dan kepedulian yang tumbuh dari bawah, saat harapan dari atas tak kunjung datang.
Meski begitu, kekecewaan tetap ada. Warga mengaku selama proses perbaikan berlangsung, tidak terlihat adanya kehadiran pihak pemerintah di lokasi.