Amanah Ayah Hampir Dibayar Nyawa, Polisi Koma Sepekan Usai Adu Banteng Saat Memburu Narkoba di Kebumen
- Kloase VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Perjalanan karier Brigadir Kepala I Gede sebagai anggota Polri penuh risiko. Berawal dari pesan sang ayah, ia meniti jalan sebagai polisi hingga mengalami kecelakaan adu banteng saat mengejar pengedar narkoba di Kebumen dan sempat koma hampir sepekan.
Brigadir Kepala I Gede tak pernah melupakan alasan awal dirinya memilih menjadi anggota Polri. Keputusan itu berangkat dari pesan sang ayah yang juga pernah berdinas sebagai polisi.
Amanah tersebut ia pegang hingga akhirnya resmi bergabung dengan Polri pada 2010.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Gede mendapat penempatan awal di wilayah Polda Jawa Tengah.
Kariernya kemudian banyak ditempa saat berdinas di Satuan Reserse Narkoba Polres Kebumen pada 2011 hingga 2017. Selama periode itu, ia terlibat langsung dalam berbagai penanganan kasus peredaran narkotika.
Peristiwa paling berat terjadi pada 2017. Saat itu, Gede menerima informasi masyarakat terkait dugaan peredaran narkoba di wilayah Wero, Gombong, sekitar tengah malam. Ia langsung bergerak melakukan pengecekan dan mendapati terduga pelaku berada di sebuah kafe.
Untuk memastikan, Gede melakukan pembuntutan. Namun upaya tersebut diketahui pelaku hingga memicu aksi kejar-kejaran di jalan raya. Dalam situasi itu, pelaku melaju kencang dan menyalip kendaraan di depannya. Gede yang mengejar mencoba melakukan manuver serupa.
Dari arah berlawanan, muncul kendaraan lain. Tabrakan adu banteng pun tidak terhindarkan.
Benturan keras membuat Gede mengalami luka serius dan tidak sadarkan diri. Ia kemudian dilarikan ke RS Margono Soekarjo dan menjalani perawatan intensif.
Akibat kecelakaan tersebut, Gede mengalami koma hampir selama satu pekan. Kondisinya sempat kritis sebelum akhirnya berangsur membaik.
“Sekitar hampir satu minggu tidak sadarkan diri,” ujarnya, mengawali ceritanya pada VIVA Jogja, Selasa (28/4/2026).
Saat menjalani perawatan, Kapolres Kebumen AKBP Alpen datang langsung menjenguk. Dalam kesempatan itu, Gede mendapat penghargaan atas dedikasinya saat menjalankan tugas. Ia juga diberikan kebebasan untuk memilih penempatan dinas setelah pulih.
Meski memiliki darah Bali, Gede memilih kembali ke Karanganyar—daerah tempat ia dilahirkan. Ibunya berasal dari Matesih, Karanganyar, yang menjadi alasan kuat baginya untuk bertugas lebih dekat dengan keluarga.