Harga Cat Naik Akibat Rupiah Melemah, PT Indaco Warna Dunia Tahan Kenaikan di Bawah 10 Persen
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus memberi tekanan terhadap industri manufaktur nasional yang bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi tersebut ikut dirasakan PT Indaco Warna Dunia, produsen cat dan aerosol yang sebagian besar bahan bakunya masih menggunakan acuan harga dolar AS.
CEO Iwan Adranacus mengatakan kenaikan kurs dolar membuat biaya pembelian bahan baku berbasis minyak bumi ikut meningkat.
Meski demikian, perusahaan mengklaim masih mampu menjaga kenaikan harga produknya tetap terkendali di tengah gejolak ekonomi global.
“Sebagian besar bahan baku kami berbasis minyak bumi dan transaksinya menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, harga bahan baku yang kami beli otomatis ikut naik,” ujar Iwan, Senin (18/5/2026).
Meski tekanan kurs terus berlangsung, perusahaan disebut telah menyiapkan strategi mitigasi melalui sistem manajemen digital untuk menjaga stabilitas pasokan dan efisiensi biaya produksi.
Menurut Iwan, perusahaan memiliki sistem buffering kebutuhan bahan baku hingga tiga sampai enam bulan ke depan. Langkah tersebut dinilai membantu perusahaan mengendalikan dampak lonjakan harga bahan baku global.
Di tengah kenaikan biaya produksi yang melanda industri cat nasional, PT Indaco Warna Dunia memilih melakukan penyesuaian harga secara bertahap dan terukur.
Perusahaan mencatat kenaikan harga produknya hingga saat ini masih berada di bawah 10 persen, lebih rendah dibanding sejumlah kompetitor di industri sejenis.
“Kenaikan kami masih relatif terkendali, rata-rata di bawah 10 persen,” kata Iwan.
Evaluasi harga dilakukan secara berkala setiap dua hingga tiga bulan mengikuti dinamika pasar global, termasuk dampak krisis energi dan ketidakpastian geopolitik internasional.
Iwan menilai strategi tersebut justru memberi ruang pertumbuhan di pasar domestik. Di tengah melemahnya daya beli masyarakat, konsumen disebut semakin sensitif terhadap harga dan mulai mencari produk dengan value for money yang lebih baik.
“Kami mendapat respons positif dari retailer maupun konsumen karena kenaikan harga kami tidak setinggi pemain lain. Ada kompetitor yang menaikkan harga sampai 10 hingga 20 persen,” ujarnya.
Selain memberi tekanan pada biaya impor, pelemahan rupiah juga membawa keuntungan bagi lini bisnis ekspor perusahaan. Pendapatan berbasis dolar AS dinilai mampu menjadi penopang di tengah volatilitas nilai tukar.