Pembatasan Pertalite Mulai Juni 2026 Bikin Peternak Ayam Karanganyar Menjerit
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Wacana pemerintah melarang pembelian BBM subsidi jenis Pertalite untuk mobil bermesin di atas 1.400 cc mulai 1 Juni 2026 mulai membuat peternak ayam rakyat di Karanganyar waswas.
Kebijakan itu dinilai bakal memicu lonjakan biaya operasional peternakan di tengah harga ayam yang belum kunjung naik.
Peternak ayam asal Desa Kalijirak, Kecamatan Tasikmadu, Tri Joko Susilo, mengatakan kenaikan biaya bahan bakar berpotensi memukul sektor peternakan ayam broiler karena berdampak langsung pada distribusi pakan, harga bibit ayam hingga biaya operasional kandang.
“Kalau BBM dibatasi, biaya angkut pasti naik. Efeknya ke mana-mana, mulai pakan sampai operasional peternakan,” ujar pada VIVA Jogja, Kamis (21/5/2026).
Menurut Tri, tekanan terhadap peternak sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Harga DOC (Day Old Chick) atau anak ayam umur sehari mengalami kenaikan dari sekitar Rp7.600 menjadi Rp8.200 per ekor.
Tak hanya itu, harga pakan ayam juga disebut naik sekitar 10 hingga 15 persen. Sementara harga jual ayam di pasaran belum mengalami kenaikan berarti.
“Pengeluaran terus naik, tapi harga ayam belum ikut naik. Yang paling berat ya peternak kecil,” katanya.
Ia menjelaskan, dirinya merupakan peternak plasma dalam sistem kemitraan perusahaan. Dalam sistem itu, peternak hanya memelihara ayam milik perusahaan dengan harga jual yang telah ditentukan melalui kontrak.
Kondisi tersebut membuat peternak tidak memiliki ruang menentukan harga sendiri meski biaya produksi terus meningkat.
Untuk satu siklus pemeliharaan ayam broiler hingga panen membutuhkan waktu sekitar 35 hari. Selama masa itu, peternak harus menanggung biaya pakan, listrik, obat-obatan hingga tenaga kerja.
Tri khawatir pembatasan Pertalite akan memperparah kondisi peternak rakyat jika tidak diikuti kebijakan penyeimbang.
“Kalau biaya terus naik tanpa ada penyesuaian harga, peternak kecil bisa semakin terjepit,” tandasnya.