Air Pamsimas Diduga Tercemar di Karanganyar, Ratusan Warga Sukosari Dipaksa Beli Air Galon

Air Pamsimas Diduga Tercemar, Warga Sukosari Harus Keluar Uang Tiap Hari untuk Beli Air
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Air yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar justru berubah menjadi sumber keresahan bagi warga Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. Air Pamsimas yang selama bertahun-tahun digunakan warga kini diduga tercemar dan tidak lagi layak konsumsi.

img_title PP Muhammadiyah Targetkan UMUKA Solo Sejajar UMS, Muh Samsuri Emban Misi Perkuat Kualitas Kampus

Warga mengaku air yang keluar dari saluran Pamsimas sering berubah warna menjadi kecoklatan, berbau, bahkan disebut telah dinyatakan tidak layak konsumsi berdasarkan hasil uji laboratorium.

Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, ratusan warga masih terpaksa menggunakan air itu untuk kebutuhan mandi dan mencuci karena tidak memiliki pilihan lain.

img_title Longsor Putus Akses Antardusun di Jatiyoso Karanganyar, 18 Rumah Warga Terisolasi

Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga kini harus merogoh kocek tambahan setiap hari dengan membeli air galon isi ulang. Beban itu dirasakan ratusan keluarga di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit.

Permasalahan ini terjadi di Dusun Melikan, Suko, dan Sukosari. Dari tujuh titik Pamsimas yang ada, hanya tiga titik yang disebut masih berfungsi normal. Sementara empat titik lainnya diklaim sudah tidak layak digunakan karena kualitas air terus memburuk.

img_title Perangkat Desa di Karanganyar Diciduk Saat Ambil Tempelan Sabu, Mengaku Sudah 5 Kali Membeli

Dampaknya tidak kecil. Sedikitnya sembilan RT dengan sekitar 380 kepala keluarga atau lebih dari seribu jiwa terdampak persoalan air bersih tersebut.

Warga menduga pencemaran berasal dari limbah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari yang hingga kini dinilai belum dikelola secara optimal. Tumpukan sampah yang terus menggunung disebut membuat warga khawatir terhadap kondisi sumber air di sekitar permukiman.

“Kadang air berubah warna kecoklatan. Dari hasil laboratorium juga disebut sudah tidak layak konsumsi,” kata Parjoko, Ketua RT setempat, Jumat (22/5/2026). 

Kondisi ini membuat warga geram. Sebab, air bersih yang seharusnya menjadi hak dasar masyarakat justru berubah menjadi persoalan berkepanjangan tanpa solusi nyata. 

Warga mengaku sudah lama mengeluhkan kondisi tersebut, namun belum ada penanganan serius yang benar-benar dirasakan.

Kini, hampir setiap rumah harus membeli air galon untuk bertahan. Dalam sehari, satu keluarga bisa menghabiskan hingga dua galon air isi ulang dengan harga sekitar Rp8 ribu per galon. Jika dihitung dalam sebulan, biaya tambahan yang harus ditanggung warga mencapai ratusan ribu rupiah.

Halaman Selanjutnya
img_title