Transaksi QRIS Soloraya Tembus Rp5,3 Triliun, BI Solo Soroti Tempat Kuliner yang Belum Go Digital
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Perubahan pola pembayaran masyarakat di Soloraya kian terlihat nyata. Di tengah lonjakan transaksi QRIS yang telah menembus Rp5,3 triliun hingga Maret 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo justru menyoroti masih banyaknya tempat kuliner populer yang belum menerima pembayaran digital.
Masyarakat kini semakin terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai, mulai dari membeli makanan, berbelanja di pasar, hingga membayar kebutuhan harian hanya melalui ponsel. Kondisi tersebut menunjukkan tren cashless di Soloraya terus berkembang pesat, terutama di kalangan generasi muda.
Selain nilai transaksi yang mencapai triliunan rupiah, volume penggunaan QRIS di Soloraya juga tercatat sangat tinggi. Sepanjang triwulan pertama 2026, jumlah transaksi telah mencapai lebih dari 54,5 juta transaksi.
Kepala Perwakilan BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan tingginya transaksi menjadi indikator kuat bahwa masyarakat kini semakin nyaman menggunakan pembayaran non-tunai.
“Artinya masyarakat sudah semakin nyaman menggunakan pembayaran non-tunai,” ujarnya.
Fenomena tersebut, menurut BI Solo, didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin bergantung pada layanan digital. Aktivitas transaksi kini lebih praktis dilakukan melalui mobile banking maupun dompet digital dibanding membawa uang tunai.
Dwiyanto bahkan menyoroti kebiasaan generasi muda yang kini lebih banyak menyimpan uang di aplikasi keuangan digital.
“Gen Y dan Gen Z itu uangnya ada di HP, bukan di dompet. Kalau pedagang tidak menyesuaikan diri akan sulit mengikuti perkembangan,” katanya.
Di sisi lain, BI Solo menilai pertumbuhan penggunaan QRIS di kawasan Soloraya masih belum merata. Saat ini jumlah merchant QRIS telah mencapai lebih dari 1,1 juta pedagang, namun aktivitas transaksi masih terkonsentrasi di wilayah Surakarta.
Sekitar 41,3 persen transaksi QRIS di Soloraya masih berasal dari Kota Solo. Kondisi itu menunjukkan daerah penyangga seperti Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Boyolali, hingga Klaten masih memiliki potensi besar untuk pengembangan transaksi digital.
BI menilai kesenjangan tersebut dipengaruhi tingkat literasi digital, kesiapan pelaku usaha, hingga kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.
Meski penggunaan QRIS terus meningkat, BI Solo masih menemukan sejumlah pusat kuliner hingga pedagang ramai pengunjung yang belum menyediakan metode pembayaran digital.