Keraton Surakarta Gelar Cek Kesehatan Gratis, PB XIV Hangabehi Berbaur dengan Abdi Dalem dan Warga
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Keraton Surakarta Hadiningrat tak hanya diwarnai tradisi sakral Grebeg Besar dan kirab gunungan.
Di balik kemeriahan prosesi budaya tersebut, terselip aksi sosial yang menyita perhatian masyarakat, yakni layanan cek kesehatan gratis bagi abdi dalem dan warga sekitar Keraton.
Suasana hangat tampak di kawasan Baluwarti saat PB XIV Hangabehi tanpa.sekat duduk berdampingan dengan Abdi Dalem dan masyarakat mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Momen kebersamaan itu menjadi pemandangan menarik karena memperlihatkan kedekatan seorang Raja dengan rakyat yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan budaya Jawa.
Program pemeriksaan kesehatan gratis tersebut terselenggara berkat kerja sama Keraton Surakarta dengan tenaga kesehatan dari wilayah Serengan dan Pasar Kliwon.
Layanan itu ditujukan untuk memastikan kondisi kesehatan para abdi dalem yang terlibat dalam rangkaian upacara adat sekaligus membantu masyarakat sekitar memperoleh akses pemeriksaan kesehatan dasar.
Putri Paku Buwono XII GKR Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan rangkaian kegiatan Idul Adha di Keraton tidak hanya menonjolkan aspek budaya, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan kepedulian sosial.
Menurutnya, Idul Adha menjadi momentum penting untuk menumbuhkan keikhlasan, rasa syukur, serta kesadaran berbagi kepada sesama melalui zakat maupun kurban.
"Keraton mengeluarkan sepasang gunungan sebagai simbol rasa syukur dan penyucian. Apa yang kita miliki harus diikhlaskan melalui zakat maupun kurban agar menjadi berkah," ujar Gusti Moeng disela cek kesehatan gratis, di Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, dua gunungan yang dikeluarkan dalam tradisi Grebeg Besar memiliki makna filosofis yang menggambarkan keseimbangan kehidupan.
Gunungan perempuan berisi rengginang dan berbagai olahan ketan matang, sedangkan gunungan laki-laki berisi aneka sayuran serta sego janganan atau nasi urap yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa.
Bagi Keraton, isi gunungan bukan sekadar pelengkap upacara adat. Berbagai hasil bumi yang disusun dalam gunungan menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan kemakmuran yang diberikan Tuhan kepada manusia.
"Orang Jawa selalu diajarkan bersyukur atas makanan dan rezeki yang diterima. Itu diwujudkan dalam gunungan dan tumpeng sebagai simbol doa dan rasa syukur," katanya.