Karanganyar Masuk 10 Besar TKA SMP Jawa Tengah 2026, Bukti Daya Saing Pendidikan Meningkat
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Prestasi pendidikan Karanganyar patut diperhitungkan. Pada pelaksanaan perdana Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, daerah ini berhasil masuk 10 besar terbaik tingkat SMP se-Jawa Tengah dan mengungguli puluhan kabupaten/kota lainnya.
Capaian tersebut menempatkan Karanganyar di peringkat ke-10 Jawa Tengah untuk jenjang SMP. Hasil itu menjadi modal positif bagi dunia pendidikan setempat sekaligus menunjukkan daya saing akademik siswa Karanganyar di tingkat provinsi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Hendro Prayitno, mengatakan hasil TKA tahun ini belum bisa dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena baru pertama kali dilaksanakan secara nasional. Meski demikian, capaian yang diraih dinilai cukup menggembirakan.
“Untuk jenjang SMP, Karanganyar berada di peringkat ke-10 se-Jawa Tengah. Karena TKA baru pertama kali dilaksanakan, hasil ini menjadi gambaran awal yang cukup baik,” ujar Hendro, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan data Disdikbud Karanganyar, rata-rata nilai Bahasa Indonesia siswa SMP mencapai 68,74, sedangkan Matematika 43,98. Total rata-rata nilai TKA SMP Karanganyar tercatat sebesar 112,72.
Sementara itu, untuk jenjang SD, Karanganyar menempati peringkat ke-18 Jawa Tengah. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia mencapai 66,33 dan Matematika 47,88, sehingga total rata-rata nilai yang diperoleh mencapai 114,21.
Di balik capaian tersebut, Disdikbud menemukan sejumlah catatan evaluasi yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya berkaitan dengan kesiapan siswa menghadapi sistem ujian berbasis digital.
Menurut Hendro, masih ada siswa yang mengalami kesulitan saat mengerjakan soal melalui perangkat komputer atau laptop. Padahal, kemampuan akademik mereka sebenarnya cukup baik ketika mengerjakan soal secara konvensional.
“Ada siswa yang sebenarnya memiliki kemampuan akademik bagus saat mengerjakan soal tertulis. Namun ketika harus membaca dan menjawab soal melalui layar laptop, mereka masih perlu beradaptasi,” katanya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penguatan literasi digital di lingkungan sekolah menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Selain penguasaan materi pelajaran, kemampuan memanfaatkan teknologi juga semakin menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti sistem evaluasi pendidikan yang terus berkembang.
Tantangan lain muncul dari aspek infrastruktur. Sejumlah sekolah yang berada di wilayah dengan kondisi geografis menantang dilaporkan sempat mengalami gangguan jaringan internet saat pelaksanaan TKA.