Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo Kembali Digelar, Ribuan Warga Bersiap Memadati Kota
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta Hadiningrat kembali digelar pada Selasa malam dan diperkirakan menyedot perhatian ribuan warga.
Tradisi sakral yang menandai pergantian Tahun Baru Jawa ini tak hanya menjadi agenda budaya terbesar di Kota Solo, tetapi juga dipercaya sebagai simbol doa keselamatan, ketenteraman, dan harapan memasuki tahun yang baru.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Kirab Pusaka Malam 1 Suro tetap menjadi tradisi yang dinanti masyarakat.
Ribuan warga biasanya memadati ruas jalan di sekitar Keraton Surakarta untuk menyaksikan prosesi arak-arakan pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun.
GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng mengungkapkan, tradisi kirab pusaka sejatinya telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual Keraton Surakarta.
"Pada masa lalu, Kanjeng Kiai Slamet bersama salah satu pusaka keraton rutin dikirab setiap malam Jumat dengan rute terbatas di kawasan Baluwarti," kata Gusti Moeng, Senin (15/6/2026).
Menurut putri PB XII tersebut, prosesi kirab kemudian berkembang pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Saat itu pemerintah meminta agar kirab dilakukan mengelilingi benteng luar keraton sehingga dapat disaksikan masyarakat secara lebih luas.
"Langkah itu membuat tradisi kirab semakin dikenal masyarakat dan menjadi agenda budaya yang selalu dinantikan saat pergantian Tahun Baru Jawa," ujarnya.
Ia menjelaskan, pusaka-pusaka yang diarak bukan sekadar benda bersejarah. Di baliknya tersimpan simbol doa, harapan, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bahkan, sejumlah pusaka Keraton Surakarta diyakini memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh penting dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa.
Karena itu, Kirab Pusaka Malam 1 Suro tidak hanya menjadi upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga sarana merawat nilai spiritual yang masih hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.
Dalam tradisi kerajaan Jawa, kirab pusaka juga dimaknai sebagai ikhtiar batin menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat berharap memperoleh perlindungan, kedamaian, dan kehidupan yang lebih baik pada tahun yang akan datang.
Memasuki Tahun Be, Keraton Surakarta berharap Kirab Pusaka Malam 1 Suro menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat harmoni, persatuan, dan pelestarian kearifan budaya Jawa yang telah diwariskan para leluhur.