Produsen Pastikan 100 Persen Minyakita Bau Solar di Karanganyar, Klaten, Wonogiri Sudah Ditarik
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), produsen minyak goreng bantuan pangan Minyakita yang berlokasi di Jl. Raya Solo–Sragen Km 7,8, Gerdu, Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, memastikan seluruh produk bermasalah yang diduga terkontaminasi hingga menimbulkan bau menyerupai solar di Kabupaten Karanganyar, Klaten, Wonogiri, dan Tegal telah ditarik serta diganti 100 persen.
Direktur PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), Joko Mukti Wijaya, mengatakan proses penarikan dilakukan secara menyeluruh sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, tanpa menunggu hasil uji laboratorium selesai.
"Hari ini kami pastikan penarikan dan penggantian minyak goreng yang bermasalah di tiga kabupaten, yakni Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, sudah 100 persen. Untuk Tegal juga sudah selesai lebih dahulu," ujar Joko kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, proses penarikan berlangsung cepat berkat dukungan Perum Bulog serta pemerintah desa yang membantu menjangkau penerima bantuan hingga wilayah terpencil.
"Kami sangat terbantu oleh Bulog dan perangkat desa. Tanpa dukungan mereka, proses penarikan di wilayah yang luas tentu tidak bisa secepat ini," katanya.
Joko menjelaskan, perusahaan memilih menarik seluruh produk dalam satu batch produksi yang diduga bermasalah meski jumlah minyak yang benar-benar terindikasi terkontaminasi relatif kecil dibanding total produksi perusahaan.
PT KMR memproduksi sekitar 5.000 ton minyak goreng setiap bulan, sedangkan minyak yang diduga bermasalah diperkirakan sekitar 100 ton. Namun seluruh produk dalam batch produksi yang sama tetap ditarik sebagai langkah antisipasi.
"Kalau satu batch terindikasi bermasalah, kami tidak mungkin memilih-milih. Semua kami tarik agar masyarakat benar-benar terlindungi," tegasnya.
Berdasarkan data perusahaan, jumlah minyak goreng yang telah berhasil ditarik dan diganti meliputi 42.644 liter di Karanganyar, 71.648 liter di Klaten, dan 68.288 liter di Wonogiri. Seluruhnya telah selesai ditukar kepada masyarakat.
Joko menegaskan keputusan melakukan penarikan sebelum hasil laboratorium keluar diambil untuk mengutamakan keselamatan masyarakat.
"Daripada menunggu hasil laboratorium satu hingga dua minggu, lebih baik kami menarik dan mengganti seluruh produk lebih dulu. Itu bentuk tanggung jawab kami agar masyarakat tidak dirugikan," ujarnya.