Bakso Gepeng “Versi BPJS” Dekat UII: Murahnya Nggak Masuk Akal, Rasanya Bikin Penasaran!
- VIVA Jogja/IG melipirkulineran
VIVA Jogja - Di tengah mahalnya harga makan di Jogja yang pelan-pelan mulai “naik kelas”, muncul satu spot yang justru bikin geleng-geleng kepala. Namanya Bakso Gepeng Kalera—lokasinya strategis banget, dekat kampus Universitas Islam Indonesia.
Tapi bukan itu yang bikin ramai dibahas. Yang bikin heboh: harga dan klaimnya. Bayangin, semangkuk bakso gepeng di sini cuma sekitar 15 ribu. Tapi menurut penjualnya, komposisi baksonya hampir full daging—99 persen daging, cuma 1 persen tepung. Klaim yang berani, bahkan cenderung provokatif.
Di tengah banyaknya bakso “karet” yang lebih banyak tepung, ini jelas jadi pembeda yang bikin orang penasaran. Secara tampilan, baksonya memang mengingatkan pada gaya bakso gepeng ala Bakso Afung—pipih, lebar, dan terlihat padat. Tapi begitu masuk ke mulut, sensasinya beda.
Teksturnya lebih “berisi”, nggak kopong, dan ada rasa daging yang cukup dominan. Bukan tipe bakso yang lembek atau terlalu kenyal buatan. Yang juga menarik, mie yang dipakai bukan mie kuning biasa, tapi kwetiau berbahan beras.
Ini bikin sensasi makan jadi lebih ringan, nggak terlalu berat di perut, tapi tetap mengenyangkan. Cocok banget buat mahasiswa yang butuh makan cepat tapi nggak bikin ngantuk di kelas. Soal kuah, ini bagian yang paling “out of the box”.
Kuahnya memang terlihat light—nggak terlalu berminyak, nggak terlalu pekat. Tapi justru di situlah letak kejutan rasanya. Gurihnya tetap dapet, dan ada kedalaman rasa yang nggak biasa. Ternyata, rahasianya ada di proses rebusannya: kuah dimasak bareng kacang.
Teknik ini jarang dipakai di bakso pada umumnya. Rebusan kacang memberi efek gurih alami yang lebih “bulat”, bukan sekadar dari kaldu tulang. Hasilnya, kuah terasa ringan tapi tetap nagih. Ditambah perasan jeruk limau, rasanya langsung naik level—segar, gurih, dan ada sedikit “kick” yang bikin suapan berikutnya terasa wajib.
Atmosfer tempatnya sendiri sederhana, khas warung mahasiswa. Nggak banyak gimmick, nggak banyak dekorasi. Tapi justru itu yang bikin fokus ke satu hal: rasa dan harga. Di jam makan siang sampai malam, tempat ini jadi titik kumpul mahasiswa yang cari makan enak tanpa harus mikir dua kali soal dompet.