Horok-Horok, Warisan Kuliner Jepara yang Kian Terdesak Zaman
- Vivajogja
JEPARA, VivaJogja – Selama ini, kuliner Jepara kerap diidentikkan dengan pindang serani. Namun di balik popularitas hidangan laut tersebut, tersimpan pangan lokal sarat sejarah yang kini mulai terpinggirkan: horok-horok khas kabupaten Jepara.
Horok-horok merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung sagu dari pohon aren. Proses pembuatannya terbilang khas melalui tahap sangrai, pengukusan, hingga pengadukan yang menghasilkan butiran kenyal dengan cita rasa netral atau tawar (30/04).
Karakter ini membuatnya fleksibel, dapat dinikmati sebagai camilan maupun pengganti nasi.
Secara historis, horok-horok lahir dari keterpaksaan. Pada akhir abad ke-19 hingga masa krisis pangan di era kolonial, masyarakat membutuhkan alternatif pengganti beras.
Kondisi tersebut berlanjut pada masa Penjajahan Jepang (1942–1945), ketika konsumsi beras dibatasi dan hasil panen harus disetorkan ke Kumiai (kata bahasa Jepang yang berarti asosiasi, serikat, atau koperasi).
Dalam situasi serba sulit, pohon aren yang melimpah menjadi penyelamat, dan horok-horok hadir sebagai solusi pangan yang terjangkau sekaligus berkelanjutan.
Nama “horok-horok” sendiri diyakini berasal dari sifat adonannya yang menggerindil dan menggumpal menjadi butiran kecil saat diolah. Keunikan bentuk inilah yang kemudian melekat sebagai identitasnya.
Kini, horok-horok telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner khas Jepara. Sayangnya, eksistensinya semakin terbatas dan umumnya hanya dijumpai di pasar-pasar tradisional.
Dalam penyajiannya, horok-horok sering dipadukan dengan pecel, sate, atau bakso. Ada pula varian sederhana dengan taburan kelapa parut yang dibungkus daun pisang atau daun jati meski jenis ini kian jarang ditemui.
Dari sisi harga, horok-horok tetap merakyat, berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per porsi, menjadikannya kuliner yang inklusif bagi semua kalangan.
Di tengah gempuran makanan modern, pelestarian horok-horok menjadi semakin penting.
Lebih dari sekadar pangan, ia adalah jejak sejarah, simbol ketahanan masyarakat, dan bagian dari identitas budaya Jepara.
Bagi wisatawan, mencicipi horok-horok bukan hanya soal rasa, tetapi juga merasakan kisah panjang yang menyertainya sebuah pengalaman kuliner yang sederhana, namun penuh makna.