Konsumsi Ikan di Jawa Masih Rendah, Pakar UGM Ungkap Akar Masalah dan Tantangan Distribusi

Konsumsi ikan di Indonesia masih rendah
Sumber :
  • Istimewa

img_title UGM Luncurkan Kurikulum Baru untuk Cetak Lulusan Adaptif dan Kompetitif

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah. Produksi perikanan nasional bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemasok terbesar di dunia, berada di posisi kedua setelah Tiongkok. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat pada tahun 2025 total produksi perikanan mencapai 26,25 juta ton, terdiri dari 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton hasil tangkap, dan 6,75 juta ton dari budidaya. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi sektor perikanan Indonesia. Namun, ironisnya, tingginya produksi tidak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat, terutama di Pulau Jawa.

Angka Konsumsi Ikan (AKI) nasional pada 2024 tercatat sebesar 58,76 kilogram per kapita per tahun. Angka ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Jepang. Di kawasan Indonesia Timur, konsumsi ikan jauh lebih tinggi, mencapai 77 hingga 82 kilogram per kapita per tahun. Sebaliknya, di Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, konsumsi ikan relatif rendah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa masyarakat di daerah dengan populasi terbesar justru kurang mengonsumsi ikan?

img_title Ikan Zebra Jadi Primadona Riset Biomedis Modern di UGM

Guru Besar Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Ir Alim Isnansetyo, menjelaskan bahwa rendahnya konsumsi ikan di Jawa dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama adalah kebiasaan makan. Sejak kecil, masyarakat Jawa terbiasa mengonsumsi lauk seperti ayam, tahu, dan tempe sebagai sumber protein. Ikan bukanlah pilihan utama di meja makan sehari-hari. Berbeda dengan masyarakat di kawasan pesisir atau Indonesia Timur yang sejak kecil sudah dibiasakan makan ikan. Menurut Alim, kebiasaan ini seharusnya bisa diubah melalui edukasi sejak dini agar generasi muda terbiasa menjadikan ikan sebagai bagian dari pola makan mereka.

Selain kebiasaan, faktor pengetahuan juga berperan besar. Banyak masyarakat yang belum memahami kandungan gizi ikan yang sangat tinggi. Ikan mengandung asam amino lengkap, baik esensial maupun non-esensial, serta asam lemak tidak jenuh seperti omega-3 yang bermanfaat bagi kesehatan jantung, peredaran darah, dan perkembangan otak. Sayangnya, produk olahan ikan siap santap masih terbatas di pasaran. Hal ini membuat masyarakat enggan mengonsumsi ikan karena dianggap kurang praktis dibandingkan sumber protein lain.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Perjuangan Anak Penjual Keripik, Tiara Julianti Raih Kuliah Gratis di Kedokteran UGM