Ekonom UMY Soroti Perubahan Pola Konsumsi, Pasar Malam Ramai Pengunjung tetapi Sepi Pembeli

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D.,
Sumber :
  • Dok Humas UMY

img_title Dugaan Pelecehan di Lingkungan Kampus, UMY Tegaskan Komitmen Cegah dan Tangani

 

BANTUL, VIVA Jogja   Fenomena pasar malam yang belakangan ramai dikunjungi masyarakat namun sepi pembeli menjadi sorotan serius kalangan akademisi. Menurut ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), persoalan utama bukan pada berkurangnya jumlah pengunjung, melainkan melemahnya daya beli dan bergesernya pola konsumsi masyarakat di era digital. Pengunjung masih datang untuk menikmati suasana, tetapi semakin selektif dalam membelanjakan uang, sehingga pedagang dan pelaku UMKM merasakan penurunan pendapatan.

img_title UMY Gelar Book Camp 2026, Dorong Dosen Tingkatkan Publikasi Buku dan Luaran Tridarma

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa menurunnya transaksi di pasar malam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni melemahnya daya beli masyarakat dan perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk ekosistem digital. “Kalau kita lihat, masyarakat sebenarnya masih datang ke pasar malam. Namun, yang berubah adalah perilaku belanjanya. Mereka datang untuk menikmati suasana, tetapi pengeluaran konsumsi di lokasi justru menurun,” ujarnya dalam wawancara daring, Selasa (30/06/2026).

Menurut Diah, penelitian menunjukkan jumlah pengunjung pasar malam relatif stabil. Namun, banyak pengunjung memilih membawa makanan dan minuman dari rumah atau sekadar berjalan-jalan tanpa melakukan pembelian. Kondisi ini mencerminkan melemahnya kemampuan masyarakat dalam berbelanja, bukan menurunnya minat terhadap pasar malam. “Preferensi masyarakat untuk datang sebenarnya tidak banyak berubah. Yang berubah adalah kemampuan dan keputusan mereka untuk mengeluarkan uang ketika berada di sana,” jelasnya.

img_title UMY Dorong Inovasi Pertanian Hidroponik untuk Ketahanan Pangan dan Wirausaha Muda

Ia menambahkan bahwa kenaikan biaya hidup turut memengaruhi perilaku tersebut. Biaya transportasi, retribusi kawasan hiburan, hingga harga makanan yang semakin mahal membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. “Kondisi ekonomi rumah tangga membuat masyarakat lebih memilih menikmati hiburan tanpa harus berbelanja. Ini menjadi tantangan serius bagi para pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pasar malam,” katanya.

Diah mengingatkan bahwa tren ini jika terus berlangsung akan berdampak luas. Penurunan permintaan tidak hanya menekan pendapatan pedagang, tetapi juga memperlambat aktivitas ekonomi lokal dan berpotensi memunculkan lingkaran kemiskinan atau poverty trap. “Kalau permintaan terus menurun, pendapatan pelaku usaha ikut turun. Dalam jangka menengah dan panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah bahkan memunculkan poverty trap apabila tidak segera diantisipasi,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title