Transportasi Jadi Pemicu Utama Inflasi Juni di Yogyakarta

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada Juni 2026 menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di Kota Yogyakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi bulanan sebesar 0,46 persen, dengan kelompok transportasi sebagai penyumbang terbesar. Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan bahwa inflasi transportasi mencapai 2,65 persen dan memberikan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum. Kenaikan harga bensin menjadi komoditas paling berpengaruh, disusul tarif kereta api dan angkutan udara yang juga mengalami penyesuaian.

img_title Pemkot Yogyakarta Lepas 446 Mahasiswa KKN, Perkuat Kolaborasi Kampus untuk Bangun Kampung

Secara tahunan, inflasi Kota Yogyakarta tercatat sebesar 3,18 persen, sementara inflasi tahun kalender dari Januari hingga Juni 2026 mencapai 1,57 persen. Angka ini masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen, atau rentang 1,5–3,5 persen. Meski inflasi bulanan Juni lebih tinggi dibandingkan Mei yang hanya 0,20 persen, BPS menilai capaian tersebut masih terkendali. Joko menekankan bahwa kenaikan harga BBM mulai berdampak pada tarif berbagai moda transportasi, sementara tekanan harga pangan relatif lebih stabil. Beberapa komoditas bahkan mengalami penurunan, seperti cabai rawit yang turun harga karena musim panen. Namun, bawang merah, bawang putih, wortel, dan pelumas masih mencatat kenaikan harga sepanjang Juni.

Selain transportasi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menjadi penyumbang inflasi tahunan dengan andil 0,94 persen, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan. Transportasi tetap memberi kontribusi signifikan secara tahunan dengan andil 0,73 persen, kembali didorong oleh harga bensin. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga energi memiliki efek berlapis terhadap biaya hidup masyarakat, baik secara langsung maupun melalui tarif transportasi.

img_title Normalisasi Sungai Code Capai 80 Persen, Menuju Ruang Hijau dan Produktif

Memasuki Juli 2026, BPS mengingatkan adanya potensi kenaikan harga dari kelompok pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru. Biaya sekolah, pembelian buku, seragam, hingga perlengkapan pendidikan diperkirakan menjadi komoditas yang perlu diwaspadai. Selain itu, harga daging sapi mulai menunjukkan tren naik akibat meningkatnya harga sapi hidup. Meski demikian, dampaknya terhadap inflasi diperkirakan terbatas karena konsumsi masyarakat lebih banyak pada daging ayam dan telur.

Di sisi lain, sektor pariwisata menunjukkan perkembangan positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 61,76 persen, sementara hotel non bintang mencatat 34,17 persen. Rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang tercatat 1,59 malam, sedangkan di hotel non bintang 1,22 malam. Komposisi tamu masih didominasi wisatawan domestik sebesar 95,94 persen, sementara wisatawan mancanegara mencapai 4,06 persen. Menurut Joko, meningkatnya okupansi hotel dipengaruhi oleh banyaknya hari libur nasional dan akhir pekan panjang pada Mei. Ia memperkirakan tingkat hunian hotel berpotensi kembali meningkat pada Juni seiring libur sekolah.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Jepara Kencangkan Pengawasan BBM Subsidi Lewat Integrasi Data Kapal Nelayan