Rupiah Tertekan, Ekonom UMY Tegaskan Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Kokoh

Dr Dyah Titis Kusuma Wardani
Sumber :
  • Dok UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama karena pelemahan rupiah kerap dianggap sebagai cerminan rapuhnya ekonomi nasional. Namun, pemerintah bersama sejumlah akademisi menegaskan bahwa pelemahan kurs tidak serta-merta menunjukkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani, yang menilai bahwa indikator makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif sehat.

img_title Rupiah Tertekan, DPRD Yogyakarta Dorong Intervensi Pemkot untuk Selamatkan UMKM

Dyah menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kekuatan ekonomi nasional. Menurutnya, kurs rupiah sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Ketika dolar Amerika menguat, ketidakpastian suku bunga global meningkat, atau terjadi arus keluar modal, rupiah akan rentan tertekan meskipun indikator ekonomi domestik menunjukkan stabilitas. “Nilai tukar rupiah bisa melemah meskipun fundamental ekonomi tetap kuat, karena kurs dipengaruhi oleh sentimen pasar dan faktor eksternal yang sulit dikendalikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh dinamika global, seperti penguatan dolar AS, ketidakpastian arah kebijakan moneter di negara maju, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal di dalam negeri. Kondisi ini membuat rupiah sangat sensitif terhadap persepsi pasar. Meski demikian, Dyah menekankan bahwa faktor domestik tetap berperan penting dalam menjaga stabilitas. Kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah, kredibilitas fiskal, serta ketahanan sektor eksternal menjadi penopang utama ketika perekonomian menghadapi guncangan dari luar.

img_title Rupiah Melemah, Pakar UMY Ingatkan Pentingnya Komunikasi Empatik Pemerintah

Menurut Dyah, pelemahan rupiah tidak bisa langsung diartikan sebagai melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Pemerintah menilai kondisi fundamental melalui berbagai indikator makro, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, rasio utang pemerintah, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, stabilitas sistem keuangan, tingkat investasi, hingga kondisi pasar tenaga kerja. Semua indikator tersebut saat ini masih menunjukkan tren yang relatif positif. “Fundamental ekonomi harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari kurs rupiah. Stabilitas makro tercermin dari banyak aspek yang saling terkait,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title