Peneliti UGM Temukan Parasit Endemik pada Komodo, Dorong Sistem Cegah Dini One Health

Fakultas Kedokteran Hewan UGM ungkap keberadaan parasit yang menyerang komodo liar
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Komodo, kadal terbesar di dunia yang hanya hidup di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi sorotan penelitian ilmiah. Selama ini, konservasi satwa endemik berstatus rentan punah tersebut lebih banyak menitikberatkan pada populasi dan ekologi habitat. Namun, aspek kesehatan, khususnya penyakit parasit, masih jarang dikaji secara mendalam. Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka perspektif baru dengan mengungkap keberadaan parasit yang menyerang komodo liar di habitat aslinya.

img_title UGM Jadi Tuan Rumah Simposium Endokrinologi Komparatif Asia-Oseania

Tim peneliti menemukan cacing pita endemik bernama Kapsulotaenia sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen. Parasit ini memiliki adaptasi unik berupa kapsul pelindung ganda pada telurnya, yang membuatnya mampu bertahan di lingkungan sabana semi-arid, habitat alami komodo. Guru Besar Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menegaskan bahwa parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem. “Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia menunjukkan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategis,” ujarnya.

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa doktoral FKH UGM, drh. Aji Winarso, M.Sc., melalui disertasi yang mengkaji keragaman parasit komodo liar dengan pendekatan multidisiplin. Ia memadukan parasitologi klasik, taksonomi molekuler, dan ekologi lanskap dalam kerangka One Health. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Wisnu Nurcahyo, Dr. Dwi Priyowidodo, serta Assoc. Prof. Ivona Foitová dari Masaryk University, Republik Ceko. Menurut Aji, aspek kesehatan komodo liar masih menjadi bagian yang kurang diperhatikan dalam konservasi. Padahal, penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang hidup di pulau-pulau kecil. “Kami ingin membangun baseline data mengenai patogen dan parasit komodo sebagai dasar deteksi ancaman penyakit sejak dini, terutama di tengah meningkatnya interaksi komodo dengan manusia akibat pariwisata,” jelasnya.

img_title Fenomena Api Misterius di Seyegan: Antara Dugaan Gas Hidrogen, Retakan Tanah, dan Penantian Kepastian Ilmiah

Penelitian dilakukan dengan memenuhi aspek legal, mulai dari ethical clearance hingga perizinan akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan. Tim kemudian berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Komodo sebelum melakukan observasi habitat dan pengambilan sampel biologis berupa feses, darah, serta ektoparasit. Sampel yang diperoleh diidentifikasi secara morfologis menggunakan mikroskop, lalu dipastikan identitasnya melalui analisis molekuler agar hasil lebih akurat.

Halaman Selanjutnya
img_title