Haedar Nashir: Pendidikan Holistik Muhammadiyah Sapen Universal School Jadi Tonggak Transformasi Nasional
- jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani
BANTUL, VIVA Jogja – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen RI, Dr. Fajar Riza Ul-Haq, meresmikan Gedung MSUS Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Bantul, Sabtu (04/07/2026). Sekolah ini merupakan pengembangan dari SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah dasar unggulan di Indonesia.
Dalam pidatonya, Haedar menegaskan bahwa kehadiran MSUS adalah tonggak penting dalam perjalanan pendidikan Muhammadiyah. “Gedung ini akan menjadi kelas internasional. Pendidikan harus dilakukan secara holistik, mencakup ekosistem, sarana prasarana, hingga proses pembelajaran. Kita ingin menghadirkan sekolah unggulan yang bukan hanya berkelas nasional, tetapi juga ASEAN bahkan internasional,” ujarnya.
Haedar menyoroti tingginya minat masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen yang membuat antrean pendaftaran panjang hingga bertahun-tahun. “Minat masyarakat itu tidak bisa dicukupi ketika kita masih ada di Sapen Timur. Maka kita kembangkan di sini. Muhammadiyah ingin melayani pendidikan untuk semua,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan jabatan, kekuasaan, atau kapital, melainkan tanggung jawab kebangsaan. “Kami tidak berpikir soal kapital, kami berpikir soal tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Itulah komitmen Muhammadiyah. Bersama SAPEN, TK Abad Semesta, UMJ, UAD, UNISA, hingga universitas dan rumah sakit di kawasan 3T, semua menunjukkan komitmen kebangsaan Muhammadiyah,” tegasnya.
Haedar menambahkan, pendidikan harus melahirkan manusia yang utuh, beriman, bertakwa, cerdas, terampil, sekaligus memiliki empati sosial. “Indonesia adalah bangsa yang berpijak pada kultur gotong royong. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan anak-anak cerdas tetapi tumpul sikap sosialnya. Sikap sosial ini penting dipertahankan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan perlunya reorientasi pendidikan nasional agar kembali pada konsep dasar UUD 1945. “Tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa pilih kasih. Jangan sampai universitas hanya mengejar jumlah mahasiswa seperti bis kota mengejar penumpang, tetapi kualitas pembelajaran tidak bagus. Itu akan melahirkan kesenjangan,” kata Haedar.
Lebih jauh, Haedar menekankan pentingnya pendekatan moderat dalam pembangunan bangsa. “Pancasila adalah ideologi moderat. Bangsa kita juga bangsa moderat. Jika pendekatan ekstrem dilakukan, itu tidak akan bertahan lama. Maka perlu kebijakan terpadu, dialog, dan diskusi terbuka. Jangan ada militerisasi di aspek sipil, dan jangan ada sipilisasi di aspek militer. Tempatkan sesuatu pada tempatnya,” pungkasnya.