Pemkot Yogyakarta Dorong Kawasan Penyangga Jadi Destinasi Wisata Baru
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Status Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak 2023 menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menghadirkan inovasi dalam pelestarian kawasan bersejarah. Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa pengakuan internasional ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar untuk menjaga nilai budaya sekaligus menjawab kebutuhan pembangunan kota. Salah satu langkah yang kini didorong adalah pengembangan kawasan penyangga atau buffer zone sebagai destinasi baru agar aktivitas wisata tidak hanya bertumpu pada kawasan inti seperti Malioboro.
Hal tersebut disampaikan Hasto saat membuka The 3rd International Field School and Seminar on The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks: Living Heritage for the Future – Building Sustainable Conservation and Management Strategies for the Cosmological Axis Buffer Zone di Graha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/7). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta, UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kyoto University, serta UNESCO Regional Office for Indonesia and ASEAN. Sebanyak 20 peserta dari Indonesia dan Jepang mengikuti program selama enam hari untuk mempelajari kawasan Sumbu Filosofi, khususnya zona penyangga, dengan pendekatan Historic Urban Landscape (HUL).
Menurut Hasto, tekanan kunjungan wisatawan yang semakin meningkat, terutama di Malioboro, menimbulkan tantangan tersendiri. Ia menilai perlu ada inovasi agar kawasan penyangga ikut berkembang sebagai ruang aktivitas ekonomi, budaya, dan pariwisata baru. “Satu hal yang perlu mendapatkan respons adalah tekanan kunjungan wisatawan, terutama mass tourism, yang memberikan tekanan tersendiri terhadap core zone. Oleh karena itu, perlu ada gagasan agar buffer zone juga berkembang sebagai destinasi baru,” ujarnya.
Salah satu potensi yang dinilai dapat dikembangkan adalah kawasan sungai di Kota Yogyakarta. Hasto menyebut Sungai Code maupun Sungai Gajah Wong memiliki peluang besar menjadi destinasi wisata alternatif yang tetap selaras dengan pelestarian lingkungan dan warisan budaya. Ia bahkan membayangkan Sungai Code bisa menjadi jalur alternatif menuju Malioboro. “Saya bermimpi ketika Malioboro macet, kita bisa ke Malioboro lewat Sungai Code,” katanya. Pemerintah Kota Yogyakarta telah melakukan normalisasi Sungai Code selama dua pekan terakhir, mulai dari belakang Hotel Tentrem hingga Jembatan Kewek. Dengan kondisi sungai yang lebih lancar, Hasto memperkirakan waktu tempuh arung jeram bisa dipangkas dari 45 menit menjadi sekitar 20 menit.