Biopori Jumbo Diperluas ke Pasar Tradisional, Pemkot Yogya Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Wilayah

Ilustrasi biopori jumpo di pasar tradisional
Sumber :
  • Bing Image Creator

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat strategi pengelolaan sampah dengan memperluas pembangunan biopori jumbo hingga ke kawasan pasar tradisional. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot dalam menekan timbulan sampah organik sekaligus mendukung pola pengelolaan sampah yang lebih terdesentralisasi. Hal tersebut mengemuka dalam rapat dinas yang dipimpin Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Wakil Walikota Wawan Harmawan.

img_title Gerakan Mas JOS Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah di Yogyakarta, Capai 47,68 Ton per Hari

Dalam rapat evaluasi semester pertama tahun 2026, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, memaparkan perkembangan program pengolahan sampah, khususnya pembangunan biopori jumbo. Ia menjelaskan bahwa hingga 30 Juni 2026, sebanyak 286 titik biopori jumbo telah terbangun dari target 400 titik tahun ini. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan 114 titik yang ditargetkan rampung pada triwulan berikutnya. “Pada tahun 2026 ini akan dibangun 400 titik biopori jumbo. Sampai per 30 Juni sudah terbangun 286 titik, sehingga masih kurang 114 titik lagi. Kami menargetkan seluruh kekurangan itu dapat direalisasikan pada triwulan berikutnya,” ungkap Rajwan.

Jika target tersebut tercapai, maka total biopori jumbo di Kota Yogyakarta akan mencapai 1.000 titik pada akhir tahun 2026, hasil akumulasi dari pembangunan tahun 2025 sebanyak 600 titik ditambah pembangunan tahun ini. Rajwan menekankan bahwa biopori jumbo bukan sekadar simbol keseriusan pemerintah dalam menangani sampah, tetapi juga instrumen nyata untuk mengurangi volume sampah organik yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir. “Melalui biopori jumbo, sampah organik dapat dikelola langsung di wilayah, sehingga volume sampah yang harus diangkut keluar dapat ditekan secara signifikan,” jelasnya.

img_title Pemkot Yogyakarta Siap Olah Sampah Penyapuan Jalan Jadi Pupuk Organik, Target Operasi November 2026

Selain pembangunan, DLH juga melaporkan hasil pemanenan biopori jumbo yang telah dilakukan di 200 titik di 37 kelurahan. Material organik yang terurai kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Produk turunan ini memiliki manfaat ganda, tidak hanya sebagai solusi pengelolaan sampah organik, tetapi juga mendukung penghijauan lingkungan, pemeliharaan taman, hingga pertanian perkotaan. Rajwan menilai keberadaan biopori jumbo sejauh ini cukup efektif dalam menekan timbulan sampah organik di tingkat masyarakat. Karena itu, pihaknya mendorong kolaborasi dengan kelurahan, kampung, dan komunitas untuk memperluas cakupan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title