Urban Farming Wirobrajan 2026, Kreativitas Warga Sulap Tembok Jadi Kebun Sayur untuk Ketahanan Pangan

Pertanian perkotaan dengan sistem wall planter
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

 

img_title Bupati Tegal Resmikan Kampung Ternak Organik, 103 Kambing Jadi Mesin Ekonomi Warga

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, warga Kampung Wirobrajan menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kreativitas mampu menghadirkan solusi nyata bagi ketahanan pangan. Melalui Kelompok Tani Swa Katon Asri, masyarakat setempat berhasil menyulap tembok-tembok kampung menjadi kebun produktif dengan sistem wall planter, polybag, hingga wadah daur ulang dari galon bekas. Pada kegiatan yang berlangsung di Pendopo Sumarah, Jalan Setiyaki, Wirobrajan, kelompok ini menanam 1.200 bibit sawi dan selada air, menegaskan komitmen mereka terhadap pertanian perkotaan yang berkelanjutan.

Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan sempit menjadi solusi penting untuk mendukung program ketahanan pangan di wilayah perkotaan. Menurutnya, masyarakat tetap bisa memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga meski tidak memiliki pekarangan luas. “Kami mengikuti program pemerintah untuk ketahanan pangan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mandiri dengan mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang organik dan sehat,” ujarnya.

img_title Perempuan Sekar Arum Jadi Garda Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta

Beragam tanaman dibudidayakan di lokasi tersebut, mulai dari cabai, terong, tomat, seledri, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga buah-buahan seperti pepaya, pisang, mangga, sawo, dan kelengkeng. Karena keterbatasan lahan, sebagian besar tanaman ditanam menggunakan wall planter yang dipasang di tembok, polybag, serta wadah daur ulang. “Wall planter menjadi solusi karena lahan di perkotaan terbatas. Kami memanfaatkan tembok-tembok yang ada untuk media tanam sehingga tetap produktif,” jelas Yantini.

Kelompok Tani Swa Katon Asri berdiri sejak 2017 dengan fokus awal pada budidaya hidroponik di RT 17. Kegiatan di Pendopo Sumarah mulai aktif sejak 27 Februari 2022 dan terus berkembang hingga kini. Dukungan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menjadi fondasi awal, disusul kolaborasi dengan kelurahan, gapoktan, kemantren, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Polbangtan. “Alhamdulillah sekarang anggota semakin banyak, gotong royong warga juga sangat baik. Respon masyarakat terhadap kegiatan bercocok tanam ini sangat positif,” tambah Yantini.

img_title Reforma Agraria Disorot di Karanganyar, Petani Kecil Desak Perubahan Kebijakan di Hari Tani Nasional

Hasil panen tidak hanya dikonsumsi anggota kelompok, tetapi juga dijual kepada warga sekitar dengan harga lebih terjangkau dibanding pasar. Terong, misalnya, dijual Rp4.000 per kemasan, sementara tanaman dalam polybag dipasarkan mulai Rp25.000 hingga Rp50.000. Langkah ini menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Yantini berharap kawasan ini berkembang menjadi pusat edukasi pertanian perkotaan. “Kami ingin tempat ini menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat, agar pertanian semakin maju dan kerukunan warga tetap terjaga,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
img_title