Yogyakarta Genjot Kultur Jaringan Pisang untuk Penuhi Permintaan Bibit Nasional

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi dengan tunas-tunas pisang
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

img_title UGM Lestarikan Plasma Nutfah Sapi Jawa Lewat Smart Farming dan Kolaborasi Internasional

 

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Di tengah meningkatnya kebutuhan bibit pisang di berbagai daerah, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pengembangan kultur jaringan pisang. Langkah ini bukan hanya untuk memenuhi permintaan lokal, tetapi juga menjawab kebutuhan dari provinsi lain yang semakin meluas. Kultur jaringan dipandang sebagai solusi efektif karena mampu menghasilkan bibit dalam jumlah besar, seragam, dan bebas hama penyakit, sehingga kualitas tanaman tetap terjaga.

img_title Pisang Ambon Ajaib dari Gunungkidul Jadi Harapan Baru Pertanian Lokal

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menyebutkan bahwa setiap tahun permintaan bibit pisang dari Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta mencapai 11.000 hingga 15.000. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan permintaan bibit tanaman lain yang pernah dicoba dikembangkan dengan metode serupa, seperti anggrek, aglaonema, keladi, dan kantong semar. Namun, minat masyarakat terhadap tanaman hias tersebut tidak sebesar pisang. “Varietas Raja masih menjadi favorit masyarakat, sehingga kami tetap memprioritaskan pisang,” ujarnya.

Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta saat ini menyimpan sekitar 333 kultivar pisang dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara. Koleksi tersebut meliputi Pisang Raja, Ambon, Kepok, Mas Raja, Sangga Buwana, Klutuk, Genderuwo, Lase, Morosebo, Jarum, Potho, Tanduk, hingga Cavendish. Dengan luas lahan sekitar dua hektare, kebun ini menjadi pusat konservasi sekaligus produksi bibit unggul. Sukidi menegaskan bahwa misi utama kebun ini adalah melestarikan varietas pisang yang ada, sekaligus memperbanyak jenis yang paling diminati masyarakat melalui kultur jaringan.

img_title UGM dan Ewindo Perkuat Konservasi Benih Lokal untuk Ketahanan Pangan

Varietas seperti Raja Bagus, Raja Talun, Kepok Merah dan Putih, Ambon Lumut, serta Ambon Amerika menjadi yang paling sering dicari. Oleh karena itu, produksi bibit lebih difokuskan pada jenis-jenis tersebut. Sukidi menambahkan bahwa tren permintaan bibit pisang terus meningkat, meski kenaikannya relatif landai. Permintaan tidak hanya datang dari Yogyakarta, tetapi juga dari Jawa Timur, Lampung, hingga Kalimantan. “Laboratorium kultur jaringan kami masih mampu memenuhi kebutuhan itu, dan kami juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk distribusi bibit ke seluruh Indonesia,” jelasnya.

Kultur jaringan sendiri merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tertentu, seperti sel atau jaringan, lalu menumbuhkannya dalam media buatan yang steril. Keunggulan metode ini adalah bibit yang dihasilkan lebih seragam, jumlahnya banyak, dan bebas dari hama maupun penyakit. Dengan cara ini, produktivitas pisang bisa ditingkatkan sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

Halaman Selanjutnya
img_title