Strategi Penanganan Stunting Kota Yogyakarta Jadi Rujukan Kabupaten Hulu Sungai Utara
- Dok Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menjadi sorotan nasional setelah strategi penanganan stunting yang diterapkan berhasil menarik perhatian daerah lain. Kali ini, Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Hero Setiawan, bersama jajaran pejabat daerah melakukan kunjungan kerja ke Balai Kota Yogyakarta untuk mempelajari langsung praktik terbaik yang dijalankan. Pertemuan berlangsung di Ruang Yudhistira, Balaikota Yogyakarta, dan dipimpin langsung oleh Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.
Dalam sambutannya, Hasto menekankan bahwa pembangunan daerah tidak bisa dilakukan dengan membagi anggaran secara merata ke seluruh organisasi perangkat daerah. Menurutnya, strategi yang tepat adalah fokus pada program prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan, jika anggaran hanya dibagi tipis, hasilnya tidak akan signifikan. "Harus ada fokus agar masyarakat merasakan perubahan nyata," ujarnya.
Selain soal tata kelola anggaran, Hasto juga menyoroti pentingnya kebijakan ekonomi yang berpihak pada produk lokal. Ia menilai kebocoran ekonomi terjadi ketika masyarakat lebih banyak membeli produk dari luar daerah. Karena itu, pemerintah harus hadir menciptakan ekosistem agar masyarakat mau membeli produk sendiri. Dengan cara ini, kesejahteraan masyarakat bisa meningkat dan daerah mampu berkembang lebih cepat.
Salah satu topik utama yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah penanganan stunting. Kota Yogyakarta dinilai berhasil menurunkan prevalensi stunting melalui strategi berbasis data. Hasto menjelaskan bahwa langkah pertama adalah memastikan data keluarga berisiko stunting selalu diperbarui secara real time. Pemerintah Kota Yogyakarta memanfaatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang setiap hari melaporkan perkembangan ibu hamil, bayi baru lahir, balita, hingga keluarga berisiko melalui grup WhatsApp. Data tersebut kemudian direkap ke dalam Sistem Informasi Keluarga sehingga intervensi bisa dilakukan secara tepat sasaran.
Setelah data tersedia, pemerintah memberikan pendampingan intensif kepada keluarga berisiko. Kader dan TPK memastikan bantuan makanan bergizi benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, serta balita yang membutuhkan. "Intervensi gizi dilakukan langsung oleh kader. Pendekatan ini terbukti efektif menurunkan angka stunting," jelas Hasto.