Kolaborasi Multipihak Menguatkan Koperasi Desa Merah Putih untuk Ekspor Herbal Sri Agung ke Timur Tengah
- Istimewa
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Menyambut Hari Koperasi Nasional ke-79 pada 12 Juli 2026, Yayasan Griya Jati Rasa bersama Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dan Pemerintah Kalurahan Bleberan menggelar Seminar Strategis di Rumah Produksi Sri Agung, Kapanewon Playen, Kamis (09/07/2026) lalu. Acara ini menjadi wujud nyata implementasi tema nasional “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya” dengan menekankan pentingnya kemitraan taktis antara koperasi desa dan bisnis lokal yang sudah tumbuh di masyarakat.
Koperasi Desa Merah Putih hadir sebagai agregator bagi ekosistem bisnis akar rumput, salah satunya Kelompok Herbal Sri Agung yang dipimpin oleh Sri Kustini. Produk herbal dan makanan olahan berbasis singkong milik Sri Agung kini diintegrasikan ke dalam sistem digital serta tujuh gerai retail resmi koperasi. Langkah ini menjadi strategi penting untuk memperluas pasar sekaligus membuka peluang ekspor ke Timur Tengah dengan nilai yang ditargetkan mencapai Rp 2,5 miliar di Arab Saudi.
Seminar ini juga menghadirkan sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam menyusun rekomendasi kebijakan serta tata niaga guna mendukung pemasokan obat dan minuman herbal berkualitas bagi jemaah haji Indonesia di luar negeri. Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, Ustadz Beny Susanto, menegaskan bahwa esensi koperasi berdaya adalah kemampuan koperasi memayungi dan mempercepat laju bisnis desa tanpa mematikan usaha swadaya rakyat. Menurutnya, kolaborasi Koperasi Desa Merah Putih dengan Kelompok Sri Agung menjadi contoh nyata bagaimana produk lokal bisa naik kelas dan berkelanjutan di pasar internasional.
Sebagai narasumber utama, Indaryanti, Kepala Seksi Bina Usaha Bidang Koperasi Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Gunungkidul, menyampaikan strategi bisnis tingkat kabupaten yang menekankan penguatan ketahanan pangan dan stimulus keterlibatan anggota koperasi dalam sistem produksi ramah lingkungan. Ia menjelaskan bahwa Pemda telah memetakan potensi dari 144 kalurahan berbasis ekonomi pertanian dan UMKM, dengan unggulan di sektor padi, jagung, ketela, hortikultura, peternakan, perikanan, hingga wisata desa. Namun tantangan masih ada, mulai dari rendahnya hasil pertanian, distribusi yang belum efisien, keterbatasan akses pembiayaan, hingga kelembagaan ekonomi desa yang perlu diperkuat.