Pemda DIY Tindaklanjuti Polemik Apresiasi Seni Anak dengan Evaluasi Menyeluruh
- Dok Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan DIY memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait polemik pemberian Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak DIY Tahun 2026. Langkah ini diambil setelah muncul kontroversi di media sosial mengenai latar belakang orangtua salah satu penerima penghargaan, yang disebut-sebut memiliki masalah hukum.
Polemik bermula dari unggahan akun resmi @humasjogja di media sosial yang menampilkan penerima penghargaan. Di kolom komentar, sejumlah netizen melontarkan kritik keras karena salah satu orang tua penerima diduga terlibat kasus penggelapan dana seragam sekolah. Respon publik yang cukup tajam ini mendorong Dinas Kebudayaan DIY untuk segera mengambil langkah mediasi agar polemik tidak semakin meluas.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan pihaknya akan memanggil semua pihak terkait, termasuk dewan juri dan orang tua anak penerima penghargaan. “Kami langsung menindaklanjuti dinamika ini. Dalam waktu dekat, kami akan memanggil pihak-pihak terkait untuk membahas permasalahan tersebut secara mendalam. Kami mengundang dewan juri dan orang tua dari anak yang bersangkutan,” ujar Dian.
Ia menjelaskan bahwa proses kurasi dan penilaian dalam ajang penghargaan telah dilakukan sesuai prosedur baku yang ketat. Menurutnya, keputusan dewan juri diambil secara independen, murni berdasarkan prestasi dan dedikasi seni anak-anak yang diusulkan. “Dalam hal penilaian, kami perlu luruskan bahwa dewan juri menilai murni dari prestasi, bakat, dan dedikasi seni sang anak. Sama sekali tidak ada klausul pertimbangan di luar prestasi anak dalam lembar penilaian juri, termasuk urusan latar belakang atau rekam jejak orang tua,” jelas Dian.
Meski demikian, Disbud DIY menyadari adanya beban moral yang besar dalam menjaga kondisi psikologis anak-anak penerima penghargaan lainnya. Dian menekankan pentingnya melindungi hak anak agar tidak tercemar oleh polemik yang melibatkan orang dewasa. “Kami tidak ingin hal tersebut menjadi pembelajaran yang buruk bagi semangat anak-anak kita untuk lebih berprestasi dalam bidang kebudayaan. Hak anak untuk berkembang dan diapresiasi kerja kerasnya harus tetap kita lindungi dari polemik orang tua,” imbuhnya.