Eko Suwanto Ajak Gen Z Yogyakarta Bijak Bermedsos Lewat Konten Kebudayaan
- jogja.viva.co.id/ Wuri D
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Aula Diskominfo DIY mendadak riuh dan penuh tawa saat Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Eko Suwanto, memutar video klenengan “Ayun-Ayun Gobyok” di hadapan puluhan mahasiswa. Dalam kegiatan Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi bertajuk Waspada Hoaks, Jaga Privasi Digital pada Kamis (16/7/2026), Eko tampil dengan gaya yang tak biasa mengawali diskusi serius tentang literasi digital dengan sentuhan budaya yang menghibur.
Alumni Magister Ekonomi Pembangunan UGM itu sengaja menampilkan video seni tradisi untuk mengajak generasi muda mengenal kembali kekayaan budaya lokal. “Apakah ada yang baru pertama kali melihat? Rasanya mayoritas ya,” ujarnya sambil tersenyum, disambut tawa para mahasiswa. Tak berhenti di situ, Eko kemudian memutar video Warokan dari Temanggung dan Wonosobo, Reog Ponorogo, serta cuplikan limbukan dalam wayang kulit karya almarhum Ki Seno Nugroho.
Suasana diskusi pun berubah menjadi hangat dan interaktif. Eko mengajak peserta menelaah apa yang bisa dipetik dari tayangan tersebut. Sevi, mahasiswa asal Temanggung, mengungkapkan bahwa Warokan kini kembali digemari anak muda karena dikemas dengan cara kreatif. “Anak muda sekarang banyak main TikTok, tapi Warokan yang dikreasi ulang membuat kami tertarik. Ini mengobati rasa kehilangan seni seperti Ketoprak,” ujarnya.
Rosyid, mahasiswa asal Wonosobo, menambahkan bahwa perpaduan gamelan dan musik modern membuat Warokan semakin diminati. “Kalau mendatangkan artis, tambah ramai. Perpaduan gamelan dan organ bikin anak muda bisa ikut joget,” katanya disambut riuh tepuk tangan.
Wafiq, mahasiswa asal Ponorogo, turut berbagi pengalaman tentang Reog yang selalu menarik perhatian saat tampil dalam Festival Reog Nasional. Menurutnya, variasi dan inovasi dalam pertunjukan membuat seni tradisional tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Menanggapi pendapat para mahasiswa, Eko Suwanto mengapresiasi antusiasme mereka. Ia menilai generasi muda memiliki pengetahuan budaya yang kuat dan mampu melihat relevansi seni tradisional di era digital. “Dari tiga tayangan tadi, kita melihat wajah ideal media sosial. Ada alat musik berbeda, penari berbeda, ide berbeda, tapi semuanya berpadu dalam harmoni yang menyenangkan,” tuturnya.