“Padhang Bulan Fest 2026: Seri Dakwah Rembulan, Menghidupkan Falsafah Jawa untuk Kebersamaan Bangsa”
- jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Padhang Bulan Fest 2026 kembali hadir sebagai salah satu perhelatan besar di Yogyakarta, membawa pesan kebersamaan, dakwah, serta filosofi kehidupan yang sarat makna. Festival ini menjadi ruang akulturasi nilai budaya Jawa dengan ajaran dakwah para wali, sekaligus wadah refleksi masyarakat untuk memperkuat ukhuwah dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Penasehat Padhang Bulan Fest 2026, Ustad Salim A Fillah, menekankan pentingnya filosofi kehidupan yang diwariskan leluhur. Ia menegaskan bahwa Padhang Bulan Fest merupakan seri dakwah “Ojo leren dadi wong apik” (jangan berhenti menjadi orang baik) tahun 2022 dan “Urip iku urup” (hidup harus memberi manfaat) 2023, “Wang si nawang” 2024, dan “Lir-ilir” 2025. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal untuk menumbuhkan benih kebaikan lintas generasi, sekaligus pengingat agar masyarakat istiqomah dalam kebaikan.
“Event Padhang Bulan ini menjadi pengingat bagi kita untuk memanfaatkan kesempatan emas yang diberikan Allah, dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari saat ini,” ujar Ustad Salim saat menggelar keterangan pers di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Selasa (21/07/ 2026).
Dikatakan, tradisi berkumpul di bawah cahaya rembulan dalam budaya Jawa bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat silaturahmi, persaudaraan, serta refleksi atas perjalanan hidup.
Lebih jauh, Ustad Salim mengaitkan makna rembulan dengan syair Thola’al Badru ‘Alaina yang dahulu dinyanyikan masyarakat Madinah saat menyambut Rasulullah SAW. “Terbitnya bulan purnama adalah harapan baik, saat bergandeng tangan, menyusun agenda perjuangan, dan berkontribusi bagi umat serta bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Padhang Bulan Fest 2026, Muhammad Akhid Subianto, menyampaikan bahwa acara tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat. Festival akan berlangsung pada 18–21 September 2026, dengan dua rangkaian utama: safari para asatidz dan festival di Jogja Expo Center (JEC).
“Festival akan digelar selama dua hari, yakni Sabtu 19 September dan Ahad 20 September. Harapan kami, seluruh komunitas, lembaga dakwah, organisasi kepemudaan, dan elemen masyarakat dapat bersama-sama menyukseskan acara ini. Dakwah harus dikuatkan dengan kolaborasi, karena kalau sendiri-sendiri kita butuh saling menguatkan,” jelas Akhid.
Ia menambahkan, jumlah panitia tahun ini sekitar 500 orang, lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai hampir 1000 orang. “Harapannya, dengan 500 orang ini kita bisa lebih efektif menyelesaikan tugas-tugas untuk menyukseskan acara tahunan ini. Kami mohon doa agar acara berjalan lancar, sukses, dan mendapat keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.