Investasi Preventif Pemkab Sleman untuk Generasi Masa Depan
- Istimewa
VIVA Jogja - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan gebrakan penting dengan menggeser fokus layanan kesehatan dari kuratif (pengobatan) menuju pendekatan promotif dan preventif (pencegahan).
Langkah strategis ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah manifestasi dari visi besar untuk menciptakan ketahanan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan jangka panjang.
Selama ini, sistem kesehatan sering kali terjebak dalam “lingkaran setan” pelayanan kuratif. Anggaran daerah habis tersedot untuk membiayai pengobatan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
Di tengah tantangan laten dan jamak tersebut, arah kebijakan Pemkab Sleman dalam menyiapkan investasi kesehatan untuk masa depan bisa menjadi model percontohan progresif.
Satu bukti nyata komitmen Pemkab Sleman itu adalah penguatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis yang berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan Cabang Sleman.
Jamak diketahui bahwa penyakit tidak menular alias PTM seperti diabetes melitus dan hipertensi kini benar-benar menjadi pembunuh senyap yang menguras produktivitas warga.
Nah, melalui inovasi Gerak Sehat Prolanis 335 (GSP 335), masyarakat tidak lagi hanya diberi tumpukan obat, melainkan diajari metode intervensi fisik berupa Interval Walking Training terukur.
Kebijakan tersebut menyentuh akar masalah: menghidupkan kembali budaya bergerak dan olahraga di level akar rumput untuk mengendalikan parameter klinis para penyandang penyakit kronis.
Langkah Pemkab Sleman bahkan tidak berhenti kepada aktivitas fisik. Sebagai Kabupaten Siaga Stroke, Sleman peka terhadap tingginya angka mortalitas dan kecacatan akibat serangan stroke.
Stroke sering kali terlambat ditangani karena minimnya edukasi prarumah sakit. Dengan status siaga ini, sistem rujukan kesehatan digerakkan agar lebih responsif sejak deteksi dini di tingkat komunitas.
Sinergi yang dibangun oleh Pemkab Sleman bersama Yayasan Kanker Indonesia Cabang Sleman juga menegaskan bahwa pencegahan kanker memang harus dilakukan secara agresif.
Deteksi dini kanker serviks dan payudara yang digalakkan ke desa-desa membuktikan bahwa negara hadir sebelum masyarakat jatuh sakit. Apalagi, biaya penanganan kanker sangatlah mahal.
Intervensi preventif adalah bentuk penyelamatan ganda --menyelamatkan nyawa warga sekaligus menyelamatkan kas keuangan daerah dari beban biaya medis yang membengkak.